Ganbatte kudasai,,!!

Ganbatte kudasai,,!!
Belajar,,Belajar,,

Ahlan Wasahlan..


“Ambillah hikmah dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62)
Tampilkan postingan dengan label Cekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cekolah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

BERBURU APEL EMAS

"Bagaimana Bu rasanya masuk kelas?" Tanya Bu Win
itu adalah pertanyaan pertama yang terlontar dari Bu Win ketika saya selesai masuk pertemuan pertama di kelas VII Putera.
"Haduuh..anak-anak nakal sekali," kata beliau sambil menggelengkan kepala.
"Kemarin ada guru yang sampai menangis gara-gara mereka." lanjut beliau
"Mereka itu ada yang bekas Anjal"
"Oo...begitu ya" jawab saya sambil manggut-manggut 
Saya hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan beliau dan agak kaget mendengar kalau mereka "nakal". Perasaan, mereka ya biasa-biasa saja seperti kelas pada umumnya. Kalau mereka banyak celometan saya pikir itu masalah yang umum dan saya sudah menter /kebal dengan kelas yang seperti itu.


Takdir membawa saya untuk turut berpartisipasi mengajar di sekolah baru yang didirikan di pesantren saya dahulu. Kebetulan, guru IPA yang sudah ada harus cuti karena hamil tua, jadilah saya yang menggantikan beliau sekaligus nantinya mengajar IPA kelas VIII. Yeah, mau tidak mau saya harus riwa-riwi ke sekolah saya yang satunya dan ke sekolah ini. Alhamdulillah...ada rasa syukur ketika saya bisa turut merasakan sekolah yang benar-benar masih baru karena saya bisa belajar bagaimana mengelola sekolah supaya bisa tetap survive.






Saya memulai pelajaran dengan membawa tumpukan 
gambar apel berwarna warni, ada merah, biru, hijau, dan hitam. Lalu saya selipkan sebuah gambar apel yang spesial, yaitu apel emas. Berkali-kali saya tunjukkan gambar apel emas tersebut kepada siswa.

“Semua apel yang berwarna warni itu jumlahnya banyak, tapi ada yang spesial hanya satu apel, yaitu apel emas.”

Setelah itu saya minta semua siswa maju ke depan kelas kemudian membuat lingkaran. Saya meminta tiga orang siswa untuk membawa tumpukan gambar apel tersebut. Dengan aba-aba dari saya kami berempat melempar gambar-gambar tersebut ke udara.

“Dengan hitungan ke tiga, hanya 15 detik, kalian harus ambil sebanyak-banyaknya gambar apel tersebut. Satu .. dua ..tiga ....” instruksi saya.

Dan mereka semua berebut untuk memungut apel sebanyak-banyaknya. Pasti yang mereka buru adalah apel emas. Ada yang terjatuh, ada yang hanya dapat sedikit, sebab badannya kecil, terpelanting oleh teman-temannya yang berbadan besar.
Setelah mereka berebut berjuang mendapatkan gambar apel tersebut, saya minta untuk kembali ke kelas. Saya minta mereka menghitung jumlah apel yang berhasil didapat. Ada yang mendapat hanya 3 apel, ada yang 18 apel, bahkan ada yang tidak dapat sama sekali. Siapa yang mendapat apel terbanyak? Muzammil mengangkat tangan dan teman-temannya memberi tepuk tangan. Siapa yang mendapat apel emas? Umar Faruk mengangkat tangannya dengan wajah berbinar dan kelas pun riuh dengan tepuk tangan.

“Sekarang kalian punya waktu 3 menit untuk saling berbagi apel-apel itu. Memang sih kalian tadi mendapatkannya dengan susah payah. Terserah kalian mau memberi atau tidak. Jadi yang mendapat sedikit, karena usahanya hanya sedikit, silahkan meminta apel lain dari teman-temannya yang mendapat banyak apel,” saya memberi instruksi.

Spontan kelas menjadi riuh. Ada yang dengan rela membagi. Namun ada yang mempertahankan.
“Aku tadi sampai terjatuh lho, jadi aku gak akan berikan satupun apelku.”
“Okey aku beri tapi yang warna hitam saja ya. Aku tidak suka warna hitam.”
"Hey, tukar warna emas, ya! nanti saya ganti dengan semua apelku!"
"Enak,aja. Aku nggak akan mengganti apel emasku!

macam-macam yang dilakukan mereka.













Setelah acara minta dan bagi selesai. Saya minta mereka 
menghitung perolehan nilai atas masing-masing usahanya. Nilai masing-masing apel saya catat di papan tulis dan semua siswa langsung menghitungnya.

Nilai apel berwarna merah = 10, hijau = 20,  biru =30, hitam = 50. Wow ... mereka bersorak saat menghitung. Ada yang gembira ada yang sedih, sebab melepaskan apel hitam. Ternyata warna hitam mempunyai nilai tinggi. Lalu saya lanjutkan dengan pertanyaan.
“Siapa yang memegang apel terbanyak?” Ada  1 siswa yang 
angka tangan, dia mendapat poin 320. 
“Siapa yang mendapat apel paling sedikit?” ada 2 anak angkat tangan.
“Tadi kamu mendapat berapa apel?”
“Sepuluh, sekarang hanya dua.”
“Kok bisa?”
“Ya saya gak tega teman-teman meminta kepada saya. Ketika satu apel saya berikan, yang lainnya juga meminta. Ya saya berikan saja. Apalagi ada teman yang hanya mendapat sedikit apel,” jawab mereka
Lalu saya berikan nilai.
“Yang memegang apel terbanyak, nilainya minus 500, sedangkan yang memegang apel paling sedikit, nilainya plus 500.”

Sekali lagi mereka berteriak, sama sekali tidak menyangka akan nilai-nilai yang saya sebutkan.

“Siapa yang memegang apel emas?” tanya saya.

Dengan wajah ceria Umar langsung angka tangan.
“Yang memegang apel emas, nilainya ..... minus 1000.”

Wow .. kelas jadi ramai sekali. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang tertawa. Ada yang kaget, dan banyak pula yang terdiam karena bingung. Tentunya ada yang paling sedih yaitu Umar.  Akhirnya tercatatlah siapa saja siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dan terendah.

Lalu saya mulai memberi ‘teaching point’ kepada semua siswa. Mereka antusias mendengarkan.

“Coba bayangkan jika sebelum saya sebarkan gambar apel berwarna warni tadi, saya munculkan nilai-nilainya terlebih dahulu. Apa yang terjadi? Tentunya kalian tidak akan berebut mendapatkannya. Dan tidak akan pernah mengambil apel emas. Benarkan? Tapi karena kalian silau dengan penampilan luar, dengan bentuk luar dari seseorang.  Lalu jika kalian tahu jika lebih banyak memberi itu nilainya tinggi, pasti kalian akan berikan semua apel tersebut. Tapi saya lihat tadi sampai ada yang merayu-rayu untuk meminta apel kepada teman-temannya. Jika kalian tahu meminta itu nilainya minus, pasti kalian tidak akan pernah meminta. Padahal kalian tahu, dalam Islam, kita dianjurkan untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan meminta sebanyak-banyaknya.”

"Bukankah tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah? Bukankah Allah menganjurkan kita untuk memberi dengan barang yang terbaik?" 
Saya melihat mulai ada raut kesadaran dan pemahaman dari permainan berburu apel emas tadi....

Setiap kita masuk kelas, berusaha kita jauhkan pikiran tentang mereka anak-anak nakal, mereka anak-anak yang susah di atur, mereka bekas anak jalanan, dan sebagainya. Ketika otak kita sudah ter mindset bahwa mereka adalah anak-anak yang nakal kita akan sulit untuk bisa masuk ke dunia mereka. Mereka juga manusia yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kita. Saya rasa ketika kita mengenal dan faham akan karakter dan latar belakang setiap anak kita akan mudah untuk masuk ke dunia mereka. Hal ini mungkin yang sering terlupa untuk dilakukan dan beranggapan itu adalah wilayah bimbingan konseling. Saya pikir semua pendidik wajib untuk bisa memahami setiap anak didiknya. Percayalah, itu menyenangkan....

#Terima kasih saya ucapkan untuk Pak Munif Chatib atas inspirasinya.. ^_^

Selasa, 20 Maret 2012

Pendidikan Tiga Dimensi : Tubuh-Hati (Perilaku)-Otak



Dalam Pendidikan JepangSerba-Serbi Jepang di Maret 24, 2011 pada 4:48 am
Saya sering ditanya dari mana proses pendidikan itu harus dimulai. Pertanyaan paling gampang dengan jawaban tersulit. Kata “dari mana” semestinya mengarah kepada sebuah tempat, lokasi, tahap,fase atau waktu. Dan oleh karenanya jawaban yang akan muncul terhadap pertanyaan di atas sangat bervariasi, dan pastilah semua benar jika asumsinya pun benar.
Selama kurang lebih enam setengah tahun tinggal dan mendalami pendidikan di Jepang (itupun rasanya masih kurang), saya berani menyimpulkan bahwa pendidikan di Jepang adalah pendidikan yang mengikuti model : tubuh –>hati—>otak.
A. Pendidikan Tubuh
Pendidikan tubuh adalah aspek yang ditekankan pada masa usia dini. Karenanya kegiatan gerak badan, pembentukan tubuh, latihan motorik dasar adalah hal yang diutamakan pada hoikuen (tempat penitipan anak), youchien (taman kanak-kanak) dan shougakkou (sekolah dasar). Lalu bagaimana penerapannya ?
Kegiatan utama anak-anak hoikuen dan youchien adalah bermain. Tidak ada unsur belajar dengan menggunakan alat tulis atau buku. Kalau toh hendak disebut belajar, mereka belajar menghafal kata melalui lagu dan sapaan atau pembicaraan ala anak, tetapi tidak dengan menulisnya. Anak-anak mengenal kosakata baru melalui proses alami.
Tidak ada ahli yang membantah bahwa bekerjanya hati dan otak tergantung dari kondisi tubuh. Hal ini dipahami betul oleh pendidik di Jepang. Oleh karenanya pembentukan raga, pengaktifan urat dan otot-otot anak dilakukan melalui kegiatan “bergerak”. Anak-anak normal maupun yang mengalami kelainan dari segi fisik tidak ada bedanya, mereka semua harus bergerak dan melatih semua organ tubuhnya pada masa kanak. Tangan yang terdiri dari 5 jari, masing-masingnya mempunyai fungsi. Dari kelima jari tangan tersebut kalau diperhatikan ibu jari adalah organ yang paling menentukan perkembangan fisik anak. Perhatikan ketika anak mulai merangkak, tumpuan utama untuk menahan tubuhnya ada pada ibu jari tangan dan kaki. Ketika dia mulai memegang sesuatu, dia mula-mula memegangnya dengan jari-jarinya yang lain, dan lama kelamaan menyadari bahwa sesuatu akan terpegang dengan kuat jika ibu jari ikut memegang. Ibu jari memperkuat jari-jari yang lain untuk kuat memegang sesuatu. Hal yang sama berlaku pada kaki. Kaki berfungsi untuk berjalan akan dipahami anak jika dia sudah mulai menggunakan kakinya untuk berjalan. Ketika anak memanjat pohon, ibu jari kakinya juga berperan untuk mencengkeram kuat pada batang pohon. Jika tidak ada ibu jari kaki, misalnya karena anak dipakaikan kaus kaki, maka tentulah kakinya sulit memijak di batang pohon. Perhatikan pula bahwa anak lebih cepat berjalan dan berlari jika ibu jari kakinya terbebaskan ketika bergerak.
Karenanya tidak mengherankan bahwa anak-anak di hoikuen dan youchien di Jepang tidak dibiasakan memakai kaus kaki atau sepatu. Mereka tidak perlu takut serangga yang akan menggigit kakinya, air yang akan mengotori tapak kakinya, atau kerikil-kerikil yang mungkin akan menusuk kaki. Makin tebal tapak kaki anak, makin bagus itu ! begitu kata seorang pengasuh di hoikuen.
Di SD pelajaran olahraga diberikan 3 kali dalam seminggu selama 45 menit setiap kali pertemuan. Jumlah jam pelajaran olahraga di SD per tahunnya adalah sbb, kelas 1 SD adalah 102 unit jam, kelas 2, 3, dan 4 sebanyak 105 unit jam, dan kelas 5 dan 6 masing-masing 90 jam plus pelajaran jasmani 12 jam (total 597 jam). Sebagai pembanding jam olahraga di SMP kelas 1-3 masing-masing 105 jam (total 315 jam) yang naik dari 90 jam (total 270 jam) di periode sebelumnya.Diskusi tentang perubahan ini silakan dibaca di sini.
Prinsip dari tubuh yang sehat lahirlah jiwa dan otak yang sehat pula tercermin dalam aktifitas belajar di sekolah. Tentu saja kesehatan tubuh dan jiwa siswa tidak ditentukan oleh pelajaran olahraga saja, tetapi juga oleh asupan makanan di dalam tubuh. Sekalipun pihak sekolah menyiapkan makan siang yang sudah terdeteksi dan terjaga nilai gizi dan besaran asupan, di rumahpun orang tua dianjurkan untuk menyediakan makanan yang paling tidak serupa kandungan gizinya.
Penyakit flu gampang sekali menular di kalangan anak-anak. Oleh karena itu, orang tua yang mempunyai anak di hoikuen, youchien, dan SD kelas rendah setiap hari perlu melaporkan kepada guru tentang kondisi tubuh, misalnya suhu badan siswa, terutama bila anak menunjukkan gejala-gejala sakit. Jika suhu badan mencapai 39 derajat, anak tidak diperkenankan masuk sekolah.
Untuk mengajarkan anak-anak tentang perlunya menjaga kesehatan, di hoikuen dan youchien serta SD ada kebiasaan mencuci tangan dan melakukan ugai (berkumur-kumur) setiap kali masuk sekolah atau selesai bermain/jam istirahat. Kebiasaan menggosok gigi bersama juga menjadi acara wajib setelah makan siang.
B. Pendidikan Hati (Perilaku)
Jika dibandingkan dengan karakter etnis di dunia ini, saya kira orang Jepang termasuk dalam kategori orang yang sangat peka. Kepekaan itu bukan terkait dengan diri pribadi tetapi berhubungan dengan orang lain. Misalnya, ketika mereka bersikap atau bertindak, yang pertama kali dipikirkan bukan keberhasilan pribadi tetapi apakah orang lain tidak terganggu dengan tindakan itu.
Adab menghormati orang lain diajarkan dengan pembiasaan sikap misalnya menyapa dengan suara lantang, tidak malu-malu, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, yang sebenarnya di sekolah di Indonesia semestinya sudah diajarkan kepada siswa-siswa kita. Guru meminta maaf kepada siswa adalah hal yang biasa. Demikian pula siswa kepada guru.
Suatu hari ada seorang murid SD Jepang menghina anak teman saya yang kulitnya hitam (karena orang Indonesia :-)  ) dengan mengatakan si anak tidak pernah mandi. Kejadian ini didengar oleh teman saya, dan tentu saja dia emosi karena anaknya dihinda (padahal anaknya biasa saja). Teman saya pada kesempatan lain menemui kakak si anak Jepang dan menyuruhnya minta maaf. Tak lama kemudian si anak yang bersalah datang menemui teman saya dan berteriak, “Fira no okaasan, gomen nasai !” (Mama Fira, mohon maaf sekali !) sambil membungkuk 90 derajat. Sikap membungkuk saat memberi salam dan  meminta maaf diajarkan di lembaga sekolah hingga di tempat-tempat kerja. Misalnya saja, ketika menyapa, maka cukup menganggukkan kepala, ketika memperkenalkan diri, membungkuk dengan sudut sekitar 30-45 derajat, dan saat meminta maaf membungkuk dengan sudut 90 derajat.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa anak muda Jepang gampang sekali bunuh diri jika mereka dihina. Pilihan bunuh diri saya kira diambil karena mereka sangat malu terhina. Jadi, jika mereka dihina dan tidak dapat melawan hinaan itu, mereka memilih mengakhirinya dengan bunuh diri. Masalah membesarkan hati anak, menumbuhkan kepercayaan diri mereka dan meningkatkan kepercayaan anak kepada orang dewasa, menjadi salah satu muatan pendidikan moral yang sedang dibahas dan dianjurkan pengejawantahannya di sekolah-sekolah.
Untuk melatih kepekaan anak terhadap lingkungannya, Jepang dapat diacungi jempol. Masalah sampah yang menjadi momok di banyak negara berkembang dan negara maju, dapat dilewati negeri ini dengan sistem pendidikan yang keras/disiplin dan penyediaan fasilitas yang mengikutinya. Pengetahuan tentang air bersih dan perlunya menjaga sumber-sumber air diajarkan dengan pola pembelajaran luar kelas, yaitu dengan mengunjungi PAM setempat, atau pada kegiatan lain mendatangi mata-mata air, sungai-sungai dan mengenali dari mana air yang mereka minum sehari-hari berasal, dan apa akibatnya jika sumber dan aliran air itu terkotori.
Pendidikan perilaku lainnya adalah kesopanan dalam berkendara. Mengapa jarang sekali kita mendengar bunyi klakson di Jepang, mengapa hampir tidak pernah kita mendengar keluhan saat mereka antri panjang, mengapa saat terjadi gempa, anak-anak dengan tertibnya bersembunyi di bawah meja dan antri berjalan menuju tempat yang aman ? Semuanya adalah pendidikan yang rutin diberikan. Latihan gempa diajarkan setiap bulan, latihan adab kesopanan berkendara diajarkan dalam pelajaran seikatsu ka (life skill).
Materi-materi karakter dasar ini diajarkan pada level hoikuen, youchien, dan SD. Dan tidak diajarkan lagi saat mereka SMP, karena dianggap mereka sudah memahaminya dengan baik, sebab sudah dibiasakan sehari-harinya. Dalam hal ini pendidikan hati/perilaku diajarkan melalui pembiasaan dan bukan ceramah di dalam kelas.
Sekali-sekali dalam pelajaran bahasa Jepang di SD, dan juga sejam pelajaran moral dengan wali kelas, guru membacakan kisah teladan, dan atau menunjukkan film, yang kemudian akan dikomentari oleh anak-anak.
Beberapa sekolah yang saya kunjungi juga menerapkan absensi kegiatan rumah kepada para siswanya, misalnya saja apa yang mereka kerjakan untuk membantu ibunya di rumah, berapa jam mereka belajar, menonton TV, dan membantu ibunya. Terlepas dari akan ada anak dan orang tua yang tidak peduli dengan hal ini, yang terpenting adalah sistem pembiasaan sudah disusun dengan pendekatan yang holistik.
C. Pendidikan Otak
Pendidikan otak atau pengajaran ilmu pengetahuan adalah hal yang mulai ditekankan di level SD kelas atas, dan semakin ditekankan di SMP dan SMA. Oleh karenanya jika dibandingkan dengan siswa SD di Indonesia, siswa SD di Jepang mempelajari cakupan materi yang lebih sedikit, tetapi mereka akan sangat lebih unggul dibandingkan dengan siswa kita jika diberikan soal-soal pemahaman dan analisa. Itu karena bukan metode menghafal yang ditekankan kepada mereka, tetapi metode memahami dan bisa.
Untuk bisa memberikan pendidikan ilmu pengetahuan yang lebih baik, seorang guru di Jepang dituntut tidak saja memahami pedagogi mengajar, tetapi lebih dari itu menguasai bidang keilmuwannya. Oleh karena itu per sepuluh tahunan, setiap guru harus mengikuti pembaharuan sertifikat. Dan saat mengikuti pembaharuan tersebut, guru harus mengambil kuliah di fakultas yang sesuai dengan bidang keilmuwannya.
Pendidikan tiga dimensi dengan urutan semacam itu (tubuh–>hati–>otak) diterapkan di semua sistem pendidikan Jepang. Jadi, bukan otak yang diutamakan tetapi tubuh yang harus dibina terlebih dahulu, dan setelah terbentuk fondasi tubuh yang mantap, anak-anak baru dikembangkan hati dan otaknya. Pengembangan otak bisa dipesatkan dengan fondasi tubuh dan hati yang sudah terbangun dan terbentuk dengan baik. Namun jika tubuh dan motorik belum terbentuk dengan baik, maka hati dan otak tidak dapat dikembangkan dengan optimal.

Rabu, 07 Maret 2012

Mau ngukur kapasitas paru-paru???

Ceritanya nih, anak-anak kelas XI IA (Ilmu Alam) sudah masuk bab RESPIRASI alias PERNAFASAN. Nah, ketika sudah sampai pada topik KAPASITAS PARU-PARU saya berencana melakukan praktikum mengukur kapasitas paru-paru manusia, baik udara tidal, udara komplementer, udara suplementer, dan udara residu. Eng..Ing..Eng.. sekolah tak memiliki alat yang namanya spirometer (alat untuk mengukur kapasitas paru-paru). Alhasil, saya berinisiatif membuat yang murah meriah dan yang penting bisa dipakai. Setelah mencari info kesana-kemari hasilnya saya musti menyiapkan bahan-bahan sebagai berikut:


  1. Botol air mineral bekas 1500 cc 2 buah
  2. selang bening dengan panjang 1 m
  3. 1 buah balon tiup
  4. plastisin
  5. air
  6. blok meter
Langkah kerja:
  1. melubangi botol tepat di bawah mulut botol, besar lubang disesuaikan dengan besar diameter selang yang digunakan.
  2. memberi label pada botol A dan B
  3. memasukkan air pada botol A dengan tinggi sampai di bawah lubang
  4. memasang blok meter di botol B
  5. masukkan ujung selang satu pada botol A dan ujung satunya pada botol B yang kosong
  6. meniup balon dengan hembusan nafas sekeras-kerasnya (udara suplementer)
  7. menutup balon hingga rapat, kemudian memasang balon di mulut botol A yang telah diisi air. Usahakan ketika memasang balon udara tidak sampai keluar.
  8. mengamati aliran air
  9. mengukur tinggi air yang ada di botol B
  10. mengukur volume air yang setara dengan volume udara suplementer.
RUMUS:
V= Luas alas x Tinggi air
karena luas alas berupa lingkaran maka: L alas = phi x r x r

Spirometer made in saya dan bapak :D


Memasang balon yang sudah ditiup 
Air pada botol A pelan-pelan berpindah ke botol B
Air semakin banyak yang berpindah












Balon akan semakin mengempis karena udara dari balon keluar dan menekan air sehingga air berpindah


Ckckckc... nggak mbois blas meterane :))
Sebenarnya cara kerja alat ini sangat sederhana. Air yang diberi tekanan akan keluar menuju botol B melalui selang yang sudah dipasang. Tekanan ini berasal dari udara yang sudah ditiupkan ke dalam balon, dimana udara yang dihembuskan sekuat-kuatnya adalah volume udara suplementer. Sehingga banyaknya air yang berpindah sebanding dengan udara suplementer. 

Mudah bukan??? ^^v

Kamis, 23 Februari 2012

Ganbatte ne..!!


"Aku seorang guru. Guru adalah seorang pemimpin. Tidak ada keajaiban dalam pekerjaanku. Aku tidak berjalan di atas air. Aku tidak membelah lautan. Aku hanya mencintai anak-anak. (Marva Collins)

PENGAMATAN









Sabtu, 18 Februari 2012

Metagenesis Lumut


Salah satu Metode Pembelajaran yang dapat digunakan untuk topik METAGENESIS / PERGILIRAN KETURUNAN pada LUMUT (Bryophyta) yaitu metode PICTURE and PICTURE. Caranya kita dapat memberikan gambar siklus metagenesis yang terpotong-potong dan tidak urut, kemudian siswa harus bisa membuat urutan siklus yang benar berdasarkan cerita yang sudah dibuat oleh guru.Cerita ini berisi proses metagenesis pada lumut dan berisi kata kunci dalam proses pergiliran keturunan lumut. 

Metode ini dapat digunakan perorangan jika dalam kelas kecil atau bisa juga dengan berkelompok jika dalam kelas besar. Gambar yang diurutkan oleh siswa dapat ditempelkan di papan tulis kemudian setiap siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya. Ketika para siswa mengurutkan gambar kita bisa memacu semangat mereka dengan menantang mereka siapakah yang dapat mengurutkan gambar paling cepat dan tepat, maka dialah pemenangnya.

Cara ini cukup efektif untuk memahamkan siswa tentang proses metagenesis tumbuhan lumut. Kita juga bisa mengetahui seberapa faham siswa untuk memahami instruksi yang diceritakan oleh guru. Selain itu, dengan siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya berarti mereka mengkomunikasikan hasil pekerjaannya dengan orang lain serta siswa dapat membandingkan hasil pekerjaannya dengan teman-temannya. Dari situ siswa dapat mengetahui letak kesalahannya.

Setelah mengurutkan gambar, siswa dapat membuat bentuk lain untuk menggambarkan proses metagenesis lumut, misalnya dengan membuat bagan.

Selamat Mencoba ^_^









Ini kelompok yang paling banyak salahnya waktu mengurutkan gambar. heheeheh

Hasil pengurutan gambar oleh anak-anak

Presentasi plus membenahi urutan yang salah