Janganlah memikirkan benar tidaknya setiap keputusan yang kita ambil.
tapi pikirkanlah apakah kita akan menyesal atas keputusan itu
kurasa itu sudah cukup bagimu..
Hidup Adalah Masa Karya Kita bukanlah apa yang kita dapatkan Tetapi kita adalah apa yang kita amalkan
Ganbatte kudasai,,!!
Belajar,,Belajar,,
Ahlan Wasahlan..
“Ambillah hikmah dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62)
Rabu, 15 Februari 2012
Senin, 13 Februari 2012
Seorang Guru Terpercaya
Seorang Guru Terpercaya
Kamis, 09 Februari 2012
Inilah kenangan Syaikh Yusuf al-Qaradhawi semasa kecil. Beliau bertutur bahwa di kampungnya terdapat dua orang kuttab (guru yang mengajarkan menghafaal al-Quran). Syaikh Yamani Murad dan Syaikh Hamid Abu Zuwail. Untuk pertama kalinya beliau belajar pada Syaikh Yamani. "Tapi kami hanya bertahan satu hari belajar bersama Syaikh Yamani," ungkap Syaikh Qaradhawi mengenang masa kecilnya. "Setelah itu, kami tidak pernah lagi bersedia kembali belajar pada beliau," tambahnya.
Apa sebabnya? Sederhana saja. Lebih dikarenakan cara Syaikh Yamani mengajar. Untuk membuat muridnya giat, Syaikh Yamani sering menghukum murid-muridnya, yang terkadang dilakukan beliau tanpa sebab yang jelas. Sejak saat itu, Qaradhawi kecil tidak bersedia belajar pada Syaikh Yamani. "Tapi, dari sana saya belajar untuk tidak gemar mendzalimi dan tidak suka didzalimi." Kenang Syaikh Qaradhawi.
Akhirnya, ibundanya menyuruh belajar pada Syaikh Ahmad. Untuk meyakinkan putranya, sang ibu berjanji menitipkan langsung pada Syaikh. Syaikh Qaradhawi sangat teringat apa yang diungkapkan ibundanya. "Syaikh," kata ibunya, "Anak ini merupakan amanah untuk Anda."
"Ibu," jawab Syaikh Ahmad, "Dia adalah anak saya juga. Insya Allah, dia akan selalu saya awasi." Apakah Syaikh Ahmad sama sekali tidak pernah menghukum? Tidak juga. Qaradhawi kecil pernah akan dihukumnya karena sering berenang di sungai Nil. Hanya karena kasih sayang dan akhlak yang dimiliki Syaikh Ahmad sajalah yang menjadikan Qaradhawi kecil bertahan dan gigih belajar. Tak segan Syaikh memuji Qaradhawi sebagai murid yang bersungguh-sungguh, memiliki daya tangkap yang baik, dan selalu hadir di kelas paling awal. Semua itu dirasakan Qaradhawi kecil sebagai sebagai sikap yang tulus dan penuh keikhlasan. Tak mengherankan jika Qaradhawi kecil sampai mengatakan, "Kami sangat khawatir jika harus berpisah dengan Syaikh Ahmad."
_________________
Kita mungkin pernah mengenang guru-guru kita yang terpercaya. Boleh jadi hingga saat ini kita masih mengingatnya. Guru yang pernah mendidik kita dengan ketulusan dan keikhlasan. Guru yang menuangkan kasih sayangnya pada kita dengan sepenuh jiwa. Guru yang mengajari murid-muridnya semata karena hendak mencari keridlaan Allah. Guru yang memahami murid-muridnya dengan sebaik-baiknya. Pada mereka kita selalu panjatkan doa, "Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik."
Sebagai pendidik, waktu terbanyak kita adalah mengajar. Jika separuh waktu hidup kita habis di depan murid, sementara kita melakukannya tanpa keikhlasan, adakah pahala dari Allah ta'ala yang akan kita peroleh? Jika waktu terbanyak kita adalah bersama anak-anak, sementara kebersamaan itu sarat dengan bentakan dan cacian, adakah yang kita dapatkan? Sungguh, pada Syaikh Ahmad-Gurunda Syaikh Qaradhawi- kita belajar. Semoga kelak murid-murid kita menjadi pribadi-pribadi yang salih dan bermanfaat bagi orang lain.
Berapa gaji yang diperlukan agar seorang guru bertambah keikhlasannya? berapa tunjangan yang diperlukan seorang guru agar secara tulus bersedia menghadapi anak-anak yang beragam, mengusap ingus anak dengan kasih sayang? Sungguh, bukan besarnya gaji dan tunjangan yang melahirkan semua itu. Panggilan jiwa sebagai pengajarlah yang mendorong mereka mengajar dengan sepenuh hati. Semoga Allah memudahkan. []
Apa sebabnya? Sederhana saja. Lebih dikarenakan cara Syaikh Yamani mengajar. Untuk membuat muridnya giat, Syaikh Yamani sering menghukum murid-muridnya, yang terkadang dilakukan beliau tanpa sebab yang jelas. Sejak saat itu, Qaradhawi kecil tidak bersedia belajar pada Syaikh Yamani. "Tapi, dari sana saya belajar untuk tidak gemar mendzalimi dan tidak suka didzalimi." Kenang Syaikh Qaradhawi.
Akhirnya, ibundanya menyuruh belajar pada Syaikh Ahmad. Untuk meyakinkan putranya, sang ibu berjanji menitipkan langsung pada Syaikh. Syaikh Qaradhawi sangat teringat apa yang diungkapkan ibundanya. "Syaikh," kata ibunya, "Anak ini merupakan amanah untuk Anda."
"Ibu," jawab Syaikh Ahmad, "Dia adalah anak saya juga. Insya Allah, dia akan selalu saya awasi." Apakah Syaikh Ahmad sama sekali tidak pernah menghukum? Tidak juga. Qaradhawi kecil pernah akan dihukumnya karena sering berenang di sungai Nil. Hanya karena kasih sayang dan akhlak yang dimiliki Syaikh Ahmad sajalah yang menjadikan Qaradhawi kecil bertahan dan gigih belajar. Tak segan Syaikh memuji Qaradhawi sebagai murid yang bersungguh-sungguh, memiliki daya tangkap yang baik, dan selalu hadir di kelas paling awal. Semua itu dirasakan Qaradhawi kecil sebagai sebagai sikap yang tulus dan penuh keikhlasan. Tak mengherankan jika Qaradhawi kecil sampai mengatakan, "Kami sangat khawatir jika harus berpisah dengan Syaikh Ahmad."
_________________
Kita mungkin pernah mengenang guru-guru kita yang terpercaya. Boleh jadi hingga saat ini kita masih mengingatnya. Guru yang pernah mendidik kita dengan ketulusan dan keikhlasan. Guru yang menuangkan kasih sayangnya pada kita dengan sepenuh jiwa. Guru yang mengajari murid-muridnya semata karena hendak mencari keridlaan Allah. Guru yang memahami murid-muridnya dengan sebaik-baiknya. Pada mereka kita selalu panjatkan doa, "Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik."
Sebagai pendidik, waktu terbanyak kita adalah mengajar. Jika separuh waktu hidup kita habis di depan murid, sementara kita melakukannya tanpa keikhlasan, adakah pahala dari Allah ta'ala yang akan kita peroleh? Jika waktu terbanyak kita adalah bersama anak-anak, sementara kebersamaan itu sarat dengan bentakan dan cacian, adakah yang kita dapatkan? Sungguh, pada Syaikh Ahmad-Gurunda Syaikh Qaradhawi- kita belajar. Semoga kelak murid-murid kita menjadi pribadi-pribadi yang salih dan bermanfaat bagi orang lain.
Berapa gaji yang diperlukan agar seorang guru bertambah keikhlasannya? berapa tunjangan yang diperlukan seorang guru agar secara tulus bersedia menghadapi anak-anak yang beragam, mengusap ingus anak dengan kasih sayang? Sungguh, bukan besarnya gaji dan tunjangan yang melahirkan semua itu. Panggilan jiwa sebagai pengajarlah yang mendorong mereka mengajar dengan sepenuh hati. Semoga Allah memudahkan. []
*) by Dwi Budiyanto http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2604680278342&set=a.1486278038985.2066056.1294945041&type=3&theater
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia
Minggu, 12 Februari 2012
Aneh-Aneh wae..
Saya merasa setiap ahad pasti ada saja kejadian aneh yang saya alami. Yang lupa jadwal ngajar lah,,yang apa lah,,hehehe,,
Tadi siang juga begitu. Ketika saya akan ke LOKA, tiba-tiba ada bapak-bapak yang menyapa saya dari pagar sekolah.
"Mbak, bentar saya mau tanya" tanya bapak tersebut
"Inggih, Pak. Ada apa?" Jawab saya
"Saya mau tanya, kalau sekolah disini bisa untuk anak SD? Saya ingin memondokkan anak saya, tapi masih kelas 4 SD" Tanya bapak itu
"O..ngoten. Disini hanya untuk MTs dan Aliyah saja, Pak. Jadi untuk SD mboten saget" Saya menerangkan.
"O..begitu ya, Mbak. Yo, wes..nunggu anak saya kelas V" sahutnya
--batin saya: loh, piye to bapak iki sudah dibilangi tidak ada untuk anak SD--
"Ngeten mawon, Pak. kalau mau untuk SD di pondok ***** ***** saja, dekat kok Pak, kalau dari sini" saya menawarkan tempat saya mondok dulu. Kemudian saya jelaskan arah-arahnya.
Saya amati bapak ini memakai celana olahraga dan kaos dan di sebelahnya ada istrinya bersama seorang puterinya.
kemudian saya bertanya, "Bapak ini lagi jalan-jalan ya, Pak?"
"Iya, jalan-jalan sama istri sambil nunggu sampeyan lewat" jawab bapaknya sambil becanda.
kontan saya ngikik...hihihihi.. -Bisa-bisa aja si Bapak ini-
Tiba-tiba si bapak bertanya, " Anak saya namanya Guruh Pamungkas. Tau nggak artinya guruh pamungkas?"
"Setahu saya pamungkas itu yang terakhir, Pak. Kalau guruh ya guruh" jawab saya seenaknya.
"Loh, iya pinter. Pamungkas itu terakhir. Maksudnya anugerah Allah yang terakhir. Terus, mbak ini kelas berapa? tanyanya lagi
Saya tertawa karena disangka masih sekolah.
"Saya ngajar, Pak" jawab saya menjelaskan
"O..sudah ngajar. Dulu kuliah dimana? Jurusan apa?" tanyanya lagi
"Saya kuliah di ** jurusan *******." jawab saya
"OO,,pinter,,pinter. Semoga cepet diangkat ya. Saya juga orang pendidikan." kata si Bapak
"Aamiin, Pak" saya mengamini doa si Bapak.
Terus tanpa dinyana si bapak berkata: " Mbak, pean gelem nggak tak olehno anakku?"
Spontan saya ngekeh dan bilang "Walaa...aneh-aneh wae bapak ini!"
Terus saya ngacir deh ke LOKA..hahahaha..
Tadi siang juga begitu. Ketika saya akan ke LOKA, tiba-tiba ada bapak-bapak yang menyapa saya dari pagar sekolah.
"Mbak, bentar saya mau tanya" tanya bapak tersebut
"Inggih, Pak. Ada apa?" Jawab saya
"Saya mau tanya, kalau sekolah disini bisa untuk anak SD? Saya ingin memondokkan anak saya, tapi masih kelas 4 SD" Tanya bapak itu
"O..ngoten. Disini hanya untuk MTs dan Aliyah saja, Pak. Jadi untuk SD mboten saget" Saya menerangkan.
"O..begitu ya, Mbak. Yo, wes..nunggu anak saya kelas V" sahutnya
--batin saya: loh, piye to bapak iki sudah dibilangi tidak ada untuk anak SD--
"Ngeten mawon, Pak. kalau mau untuk SD di pondok ***** ***** saja, dekat kok Pak, kalau dari sini" saya menawarkan tempat saya mondok dulu. Kemudian saya jelaskan arah-arahnya.
Saya amati bapak ini memakai celana olahraga dan kaos dan di sebelahnya ada istrinya bersama seorang puterinya.
kemudian saya bertanya, "Bapak ini lagi jalan-jalan ya, Pak?"
"Iya, jalan-jalan sama istri sambil nunggu sampeyan lewat" jawab bapaknya sambil becanda.
kontan saya ngikik...hihihihi.. -Bisa-bisa aja si Bapak ini-
Tiba-tiba si bapak bertanya, " Anak saya namanya Guruh Pamungkas. Tau nggak artinya guruh pamungkas?"
"Setahu saya pamungkas itu yang terakhir, Pak. Kalau guruh ya guruh" jawab saya seenaknya.
"Loh, iya pinter. Pamungkas itu terakhir. Maksudnya anugerah Allah yang terakhir. Terus, mbak ini kelas berapa? tanyanya lagi
Saya tertawa karena disangka masih sekolah.
"Saya ngajar, Pak" jawab saya menjelaskan
"O..sudah ngajar. Dulu kuliah dimana? Jurusan apa?" tanyanya lagi
"Saya kuliah di ** jurusan *******." jawab saya
"OO,,pinter,,pinter. Semoga cepet diangkat ya. Saya juga orang pendidikan." kata si Bapak
"Aamiin, Pak" saya mengamini doa si Bapak.
Terus tanpa dinyana si bapak berkata: " Mbak, pean gelem nggak tak olehno anakku?"
Spontan saya ngekeh dan bilang "Walaa...aneh-aneh wae bapak ini!"
Terus saya ngacir deh ke LOKA..hahahaha..
Lha Kok Iso??? Ckckkckkckc...
Sejak dulu saya sering terjangkiti oleh suatu penyakit, namanya PENYAKIT PELUPA,,hahahaha,,Nggak keren banget yak. Seperti ahad pagi itu. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 07.30 pagi, saya sudah tergesa-gesa berangkat ke sekolah karena ada jam ngajar. Ahad adalah hari saya karena hari itu full day school bagi saya. Ya beginilah nasib saya yang masih sing*e, guru-guru jarang ada yang mau masuk hari ahad karena hari keluarga. Jadilah saya yang diistimewakan ~_~ (padahal saya kan juga punya keluarga,,huuffftt)
#ohya, sekadar info, di sekolah saya liburnya hari jum'at
Sesampainya di sekolah saya berlari ke kelas putera (di kepala saya ingatnya hari itu jam pertama di kelas putera). Saya berjalan tergesa-gesa, melewati jembatan, menyebrang sungai, terus naik bukit, kemudian turun dari bukit (loh,,ini mau ke kelas apa jalan-jalan sih? hehehe) Yeah, memang jarak gerbang depan ke sekolah putera cukup jauh, harus menyebrang sungai yang lebarnya kira-kira 8 meter. Gara-gara letaknya di sebelah utaranya sungai, jadinya sekolah putera akrab disebut LOKA (Lor Kali) Lor dalam bahasa indonesia artinya utara dan kali artinya sungai.hehehe..
Eng,,Ing,,Eng,,saya sudah berdiri di depan kelas VII MTs dengan nafas ngos-ngosan. Loh?? saya terkejut, Kok ada gurunya?? - batin saya- hmm,,,ya sudah saya turun lagi deh - batin saya lagi-. Waktu saya sudah turun, saya disapa oleh bapak kepala sekolah :
Dudul nya saya hari itu... @,@
Lha kok iso??? ckckckckc... - Kok bisa?? red-
#ohya, sekadar info, di sekolah saya liburnya hari jum'at
Sesampainya di sekolah saya berlari ke kelas putera (di kepala saya ingatnya hari itu jam pertama di kelas putera). Saya berjalan tergesa-gesa, melewati jembatan, menyebrang sungai, terus naik bukit, kemudian turun dari bukit (loh,,ini mau ke kelas apa jalan-jalan sih? hehehe) Yeah, memang jarak gerbang depan ke sekolah putera cukup jauh, harus menyebrang sungai yang lebarnya kira-kira 8 meter. Gara-gara letaknya di sebelah utaranya sungai, jadinya sekolah putera akrab disebut LOKA (Lor Kali) Lor dalam bahasa indonesia artinya utara dan kali artinya sungai.hehehe..
Eng,,Ing,,Eng,,saya sudah berdiri di depan kelas VII MTs dengan nafas ngos-ngosan. Loh?? saya terkejut, Kok ada gurunya?? - batin saya- hmm,,,ya sudah saya turun lagi deh - batin saya lagi-. Waktu saya sudah turun, saya disapa oleh bapak kepala sekolah :
"Loh, Bu, kok tidak masuk kelas?"
" Saya sudah ke atas, kok ada gurunya ya, Pak?" jawab saya (pake bahasa Jawa krama)
"Coba ingat-ingat lagi, kelas putera apa kelas puteri?" tanya Pak kepsek lagiSaya mikir lamaaa,, kemudian spontan saya ketawa terpingkal-pingkal. Alamaaakk,,,saya baru ingat jam pertama seharusnya saya di kelas VII PUTERI, huahahahahahhaa... kami tertawa bersamaan. Pak Kepsek mentertawakan saya habis-habisan.
"Ya sudah, Bu, jalan bareng sama saya aja. Lumayan kan olah raga pagi" Beliau berkata begitu sambil terus tertawa..Sedang saya menahan malu sedari tadi
Dudul nya saya hari itu... @,@
Lha kok iso??? ckckckckc... - Kok bisa?? red-
Sabtu, 11 Februari 2012
Namanya Juga Anak-Anak
RAHASIA KECIL SAYA ^_^
Tadi, secara tak sengaja saya bongkar-bongkar buku lama saya, hahahahahayy,,, tanpa sengaja saya menemukan tulisan saya hampir lima tahun yang lalu, lumayan jadul sih,,hahaha - saya menyebutnya peta hidup- karena isinya peta hidup saya hingga 10 tahun ke depan,,,wuihhh,,keren yak.. Agak konyol juga sih, tapi ada satu bagian yang membuat saya jadi merenung. Sik..sik..sik.. lihat dulu peta hidup saya mulai tanggal 17 April 2007 ini -seingat saya, saya membuatnya ketika mau UAN-
Langganan:
Postingan (Atom)



