Ganbatte kudasai,,!!

Ganbatte kudasai,,!!
Belajar,,Belajar,,

Ahlan Wasahlan..


“Ambillah hikmah dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62)

Senin, 10 Juni 2013

Suatu Sore di Swalayan

Di suatu sore, saya belanja di sebuah swalayan kecil di dekat rumah. Sambil berkeliling, saya mengambil barang-barang yang saya butuhkan dan saya memasukkannya ke dalam keranjang. Ketika asyik melihat barang-barang, tiba-tiba pandangan saya bertumpu pada botol-botol unik dan warna-warni di rak khusus minuman. Ada yang berwarna biru cerah, hitam, hijau, bening, dan sebagainya. Setelah saya amati ternyata itu adalah botol minuman beralkohol. Saya baca-baca tulisan yang ada di botol tersebut, ada yang golongan A, B, dan C. Saya manggut-manggut membaca apa yang ada di tulisan itu dan hanya bisa ber- Ooo...


Sepulang dari swalayan, dengan penuh penasaran saya  iseng-iseng browsing di internet mengenai jenis-jenis minuman beralkohol berdasarkan kadar alkoholnya. Berdasar pada Peraturan Mentri Kesehatan RI no : 86/ Men.Kes/Per/IV/77 , yang dimaksud dengan minuman keras adalah semua jenis minuman beralkohol, tetapi bukan obat, yang meliputi : minuman keras golongan A, minuman keras golongan B, dan minuman keras golongan C.


  1. Minuman Keras Golongan A, adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 1% sampai dengan 5%. Contoh minumannya adalah Bir Bintang, Green sand, Anker Bir, San Miguel, dan lain lain.
  2. Minuman Keras Golongan B, adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 5% sampai dengan 20%. Contoh minuman golongan B antara lain Anggur Malaga, Anggur Kolesom cap 39, Anggur Ketan Hitam, Anggur Orang Tua, Shochu, Creme Cacao, dan jenis minuman anggur lainnya.
  3. Minuman Keras Golongan C, adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 20% sampai dengan 55%. Contoh minumannya adalah Mansion of House, Scotch Brandy, Stevenson, Tanqueray, Vodca, Brandy, dan lainnya.
Ternyata banyak juga jenis minuman beralkohol dan setiap jenis minuman dengan kadar alkohol yang berbeda memiliki efek memabukkan yang berbeda pula. Saya miris melihat itu, kenapa minuman beralkohol bisa dijual bebas, ya meskipun membelinya harus yang sudah berumur 18 tahun ke atas, tetap hal itu tetap tidak bisa dibiarkan. Sudah banyak hasil penelitian yang menunjukkan akan bahaya minuman beralkohol. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harjanti Setyo Rini, mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Gunadarma pecandu minuman beralkohol dapat memicu tindakan kriminal beruapa:
a . P e n ga nia ya a n
Kehadiran alkohol di dalam tubuh dapat menyebabkan seseorang lebih agresif, beringas, berani, dan kadang-kadang sudah tidak dapat mengendalikan dirinya seperti memukuli siapapun yang ada di dekatnya.
b. M e n ga nc am
Mengancam adalah menyatakan sesuatu pada orang lain dengan maksud melakukan tindakan yang membahayakan, merugikan, menyakitkan dan menyulitkan. Perilaku kriminalitas seperti pemerasan,
mencopet dan menodong, biasanya tidak jarang dikombinasikan dengan mengancam dengan kata-kata, melukai korban, memperkosa, sampai membunuh. Mereka juga dengan sengaja menakutkan korbannya dengan minum-minum atau cara khas lain.
c. Tindakan asusila
Tindakan asusila adalah suatu tindakan yang melanggar norma kesusilaan, pecandu minuman beralkohol bisa  melakukan tindakan asusila yaitu dengan melakukan pelecehan seksual terhadap wanita, karena subjek telah menggoda seorang wanita yang sedang lewat sampai menoel-noel pantat wanita tersebut.
d.  Pencurian
Ketergantungan pada alkohol seringkali mendorong pemakai untuk melakukan apa saja guna memenuhi kebutuhannya akan alkohol, seperti mencuri dan merampok.
e.  Pemerasan
Pelaku kriminalitas lebih menyukai alkohol dibandingkan zat adiktif lain, untuk meningkatkan keberanian, kepercayaan diri, agresi, belas  kasihan, rasa sakit, keberanian menghadapi masyarakat dan lain-lain. Cara melakukan kriminalitasnya adalah dengan memeras, mencopet, menodong, dan tidak jarang dikombinasikan dengan mengancam, melukai korban, memperkosa, sampai membunuh .
Sungguh sangat mengerikan bagi masa depan negeri ini jika rakyatnya adalah pecandu minuman keras. Kita lihat dari hasil survey 3,4 juta orang pecandu alkohol di Indonesia 80% adalah berusia 20-24 tahun, dan hampir dari 8% orang dewasa yang memiliki masalah dalam penggunaan alkohol. Bisa kita bayangkan berapa kriminalitas yang bisa terjadi akibat dari minuman haram ini. Belum lagi dampak bagi kesehatan yang timbulnya dalam waktu yang lama.




Sumber: Harjanti Setyo Rini
Lantas, apa tugas kita untuk memerangi  gempuran miras yang iklannya sangat menarik dan menggiurkan. Para produsen miras tersebut juga menawarkan berbagai hadiah untuk menarik minat konsumen. Sayangnya masyarakat belum memiliki kesadaran tinggi akan bahaya miras ini terbukti dari banyaknya pecandu miras ini (lebih dari 3,4 juta orang). Mereka menganggap bahwa minum miras adalah gaya hidup dan merupakan cara ampuh untuk menyelesaikan problematika hidup. Padahal, jika mereka tahu banyak efek negatif yang mengintai mereka.

Diperlukan banyak campur tangan antar semua komponen masyarakat baik dari tingkat pemerintah hingga tingkat masyarakat bawah.  Dari pemerintah dapat berperan dengan mengatur regulasi miras dengan membuat undang-undang, para pemuka agama berperan dengan memberi ceramah kepada masyarakat akan bahaya mengkonsumsi miras ditinjau dari segi agama, petugas kesehatan memberi penyuluhan bahaya miras dari segi kesehatan, dan paling penting adalah pendidikan dari lingkungan keluarga dan sekolah. Keluarga dapat menjadi kontrol para anggota keluarganya yang merupakan pangsa pasar yang menggiurkan.

Pada akhirnya, tanggung jawab kita semua untuk membentengi bangsa kita dari bahaya miras ini. Tentunya kita pernah mendengar cerita tentang ahli ibadah yang pada akhir hayatnya menyembah setan karena dia menuruti godaan syaithan untuk minum khamr. Pada awalnya karena dia berpikir bahwa minum khamr itu dosanya kecil, ternyata bermula dari minum khamr inilah dia sampai berani berzina dan tega membunuh wanita yang dizinainya. Pastilah, kita tidak ingin bangsa ini menjadi pecandu miras yang lama-kelamaan akan mengalami gangguan kesehatan hingga mentalitas. Apa Kata Dunia Jika Bangsa Indonesia ini menjadi Bangsa berandal?

Rabu, 23 Januari 2013

Bukan Karena marah

Siapa yang tak pernah berprasangka?
Semua pasti pernah, termasuk saya

di suatu Kamis pagi pertengahan Januari
14 anak MTs ** kelas 7 bersiap ke Balai Penelitian Tanaman Pemanis, Serat, dan Tembakau (BALITTAS)
kupikir ketika aku sudah datang mereka sudah rapi dan lengkap dengan bukunya.. Tapi..olalala.. Subhanallah.. tak ada satu pun di antara anak-anak itu yang bersepatu kawan.
 
# Sepatu saya sudah rusak
#Sepatu saya sudah kekecilan
#Sepatu saya tinggal sebelah

Tiba-tiba rasanya bumi berhenti berputar 

Sabtu, 05 Mei 2012

Minggu, 29 April 2012

KAFARAT BAGI YANG MELANGGAR SUMPAH

"Artinya : Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang disengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu". [Al-Ma'idah : 89]

BERBURU APEL EMAS

"Bagaimana Bu rasanya masuk kelas?" Tanya Bu Win
itu adalah pertanyaan pertama yang terlontar dari Bu Win ketika saya selesai masuk pertemuan pertama di kelas VII Putera.
"Haduuh..anak-anak nakal sekali," kata beliau sambil menggelengkan kepala.
"Kemarin ada guru yang sampai menangis gara-gara mereka." lanjut beliau
"Mereka itu ada yang bekas Anjal"
"Oo...begitu ya" jawab saya sambil manggut-manggut 
Saya hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan beliau dan agak kaget mendengar kalau mereka "nakal". Perasaan, mereka ya biasa-biasa saja seperti kelas pada umumnya. Kalau mereka banyak celometan saya pikir itu masalah yang umum dan saya sudah menter /kebal dengan kelas yang seperti itu.


Takdir membawa saya untuk turut berpartisipasi mengajar di sekolah baru yang didirikan di pesantren saya dahulu. Kebetulan, guru IPA yang sudah ada harus cuti karena hamil tua, jadilah saya yang menggantikan beliau sekaligus nantinya mengajar IPA kelas VIII. Yeah, mau tidak mau saya harus riwa-riwi ke sekolah saya yang satunya dan ke sekolah ini. Alhamdulillah...ada rasa syukur ketika saya bisa turut merasakan sekolah yang benar-benar masih baru karena saya bisa belajar bagaimana mengelola sekolah supaya bisa tetap survive.






Saya memulai pelajaran dengan membawa tumpukan 
gambar apel berwarna warni, ada merah, biru, hijau, dan hitam. Lalu saya selipkan sebuah gambar apel yang spesial, yaitu apel emas. Berkali-kali saya tunjukkan gambar apel emas tersebut kepada siswa.

“Semua apel yang berwarna warni itu jumlahnya banyak, tapi ada yang spesial hanya satu apel, yaitu apel emas.”

Setelah itu saya minta semua siswa maju ke depan kelas kemudian membuat lingkaran. Saya meminta tiga orang siswa untuk membawa tumpukan gambar apel tersebut. Dengan aba-aba dari saya kami berempat melempar gambar-gambar tersebut ke udara.

“Dengan hitungan ke tiga, hanya 15 detik, kalian harus ambil sebanyak-banyaknya gambar apel tersebut. Satu .. dua ..tiga ....” instruksi saya.

Dan mereka semua berebut untuk memungut apel sebanyak-banyaknya. Pasti yang mereka buru adalah apel emas. Ada yang terjatuh, ada yang hanya dapat sedikit, sebab badannya kecil, terpelanting oleh teman-temannya yang berbadan besar.
Setelah mereka berebut berjuang mendapatkan gambar apel tersebut, saya minta untuk kembali ke kelas. Saya minta mereka menghitung jumlah apel yang berhasil didapat. Ada yang mendapat hanya 3 apel, ada yang 18 apel, bahkan ada yang tidak dapat sama sekali. Siapa yang mendapat apel terbanyak? Muzammil mengangkat tangan dan teman-temannya memberi tepuk tangan. Siapa yang mendapat apel emas? Umar Faruk mengangkat tangannya dengan wajah berbinar dan kelas pun riuh dengan tepuk tangan.

“Sekarang kalian punya waktu 3 menit untuk saling berbagi apel-apel itu. Memang sih kalian tadi mendapatkannya dengan susah payah. Terserah kalian mau memberi atau tidak. Jadi yang mendapat sedikit, karena usahanya hanya sedikit, silahkan meminta apel lain dari teman-temannya yang mendapat banyak apel,” saya memberi instruksi.

Spontan kelas menjadi riuh. Ada yang dengan rela membagi. Namun ada yang mempertahankan.
“Aku tadi sampai terjatuh lho, jadi aku gak akan berikan satupun apelku.”
“Okey aku beri tapi yang warna hitam saja ya. Aku tidak suka warna hitam.”
"Hey, tukar warna emas, ya! nanti saya ganti dengan semua apelku!"
"Enak,aja. Aku nggak akan mengganti apel emasku!

macam-macam yang dilakukan mereka.













Setelah acara minta dan bagi selesai. Saya minta mereka 
menghitung perolehan nilai atas masing-masing usahanya. Nilai masing-masing apel saya catat di papan tulis dan semua siswa langsung menghitungnya.

Nilai apel berwarna merah = 10, hijau = 20,  biru =30, hitam = 50. Wow ... mereka bersorak saat menghitung. Ada yang gembira ada yang sedih, sebab melepaskan apel hitam. Ternyata warna hitam mempunyai nilai tinggi. Lalu saya lanjutkan dengan pertanyaan.
“Siapa yang memegang apel terbanyak?” Ada  1 siswa yang 
angka tangan, dia mendapat poin 320. 
“Siapa yang mendapat apel paling sedikit?” ada 2 anak angkat tangan.
“Tadi kamu mendapat berapa apel?”
“Sepuluh, sekarang hanya dua.”
“Kok bisa?”
“Ya saya gak tega teman-teman meminta kepada saya. Ketika satu apel saya berikan, yang lainnya juga meminta. Ya saya berikan saja. Apalagi ada teman yang hanya mendapat sedikit apel,” jawab mereka
Lalu saya berikan nilai.
“Yang memegang apel terbanyak, nilainya minus 500, sedangkan yang memegang apel paling sedikit, nilainya plus 500.”

Sekali lagi mereka berteriak, sama sekali tidak menyangka akan nilai-nilai yang saya sebutkan.

“Siapa yang memegang apel emas?” tanya saya.

Dengan wajah ceria Umar langsung angka tangan.
“Yang memegang apel emas, nilainya ..... minus 1000.”

Wow .. kelas jadi ramai sekali. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang tertawa. Ada yang kaget, dan banyak pula yang terdiam karena bingung. Tentunya ada yang paling sedih yaitu Umar.  Akhirnya tercatatlah siapa saja siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dan terendah.

Lalu saya mulai memberi ‘teaching point’ kepada semua siswa. Mereka antusias mendengarkan.

“Coba bayangkan jika sebelum saya sebarkan gambar apel berwarna warni tadi, saya munculkan nilai-nilainya terlebih dahulu. Apa yang terjadi? Tentunya kalian tidak akan berebut mendapatkannya. Dan tidak akan pernah mengambil apel emas. Benarkan? Tapi karena kalian silau dengan penampilan luar, dengan bentuk luar dari seseorang.  Lalu jika kalian tahu jika lebih banyak memberi itu nilainya tinggi, pasti kalian akan berikan semua apel tersebut. Tapi saya lihat tadi sampai ada yang merayu-rayu untuk meminta apel kepada teman-temannya. Jika kalian tahu meminta itu nilainya minus, pasti kalian tidak akan pernah meminta. Padahal kalian tahu, dalam Islam, kita dianjurkan untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan meminta sebanyak-banyaknya.”

"Bukankah tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah? Bukankah Allah menganjurkan kita untuk memberi dengan barang yang terbaik?" 
Saya melihat mulai ada raut kesadaran dan pemahaman dari permainan berburu apel emas tadi....

Setiap kita masuk kelas, berusaha kita jauhkan pikiran tentang mereka anak-anak nakal, mereka anak-anak yang susah di atur, mereka bekas anak jalanan, dan sebagainya. Ketika otak kita sudah ter mindset bahwa mereka adalah anak-anak yang nakal kita akan sulit untuk bisa masuk ke dunia mereka. Mereka juga manusia yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kita. Saya rasa ketika kita mengenal dan faham akan karakter dan latar belakang setiap anak kita akan mudah untuk masuk ke dunia mereka. Hal ini mungkin yang sering terlupa untuk dilakukan dan beranggapan itu adalah wilayah bimbingan konseling. Saya pikir semua pendidik wajib untuk bisa memahami setiap anak didiknya. Percayalah, itu menyenangkan....

#Terima kasih saya ucapkan untuk Pak Munif Chatib atas inspirasinya.. ^_^