Hidup Adalah Masa Karya Kita bukanlah apa yang kita dapatkan Tetapi kita adalah apa yang kita amalkan
Ganbatte kudasai,,!!
Belajar,,Belajar,,
Ahlan Wasahlan..
“Ambillah hikmah dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62)
Selasa, 20 Maret 2012
Pendidikan Tiga Dimensi : Tubuh-Hati (Perilaku)-Otak
Saya sering ditanya dari mana proses pendidikan itu harus dimulai. Pertanyaan paling gampang dengan jawaban tersulit. Kata “dari mana” semestinya mengarah kepada sebuah tempat, lokasi, tahap,fase atau waktu. Dan oleh karenanya jawaban yang akan muncul terhadap pertanyaan di atas sangat bervariasi, dan pastilah semua benar jika asumsinya pun benar.
Selama kurang lebih enam setengah tahun tinggal dan mendalami pendidikan di Jepang (itupun rasanya masih kurang), saya berani menyimpulkan bahwa pendidikan di Jepang adalah pendidikan yang mengikuti model : tubuh –>hati—>otak.
A. Pendidikan Tubuh
Pendidikan tubuh adalah aspek yang ditekankan pada masa usia dini. Karenanya kegiatan gerak badan, pembentukan tubuh, latihan motorik dasar adalah hal yang diutamakan pada hoikuen (tempat penitipan anak), youchien (taman kanak-kanak) dan shougakkou (sekolah dasar). Lalu bagaimana penerapannya ?
Kegiatan utama anak-anak hoikuen dan youchien adalah bermain. Tidak ada unsur belajar dengan menggunakan alat tulis atau buku. Kalau toh hendak disebut belajar, mereka belajar menghafal kata melalui lagu dan sapaan atau pembicaraan ala anak, tetapi tidak dengan menulisnya. Anak-anak mengenal kosakata baru melalui proses alami.
Tidak ada ahli yang membantah bahwa bekerjanya hati dan otak tergantung dari kondisi tubuh. Hal ini dipahami betul oleh pendidik di Jepang. Oleh karenanya pembentukan raga, pengaktifan urat dan otot-otot anak dilakukan melalui kegiatan “bergerak”. Anak-anak normal maupun yang mengalami kelainan dari segi fisik tidak ada bedanya, mereka semua harus bergerak dan melatih semua organ tubuhnya pada masa kanak. Tangan yang terdiri dari 5 jari, masing-masingnya mempunyai fungsi. Dari kelima jari tangan tersebut kalau diperhatikan ibu jari adalah organ yang paling menentukan perkembangan fisik anak. Perhatikan ketika anak mulai merangkak, tumpuan utama untuk menahan tubuhnya ada pada ibu jari tangan dan kaki. Ketika dia mulai memegang sesuatu, dia mula-mula memegangnya dengan jari-jarinya yang lain, dan lama kelamaan menyadari bahwa sesuatu akan terpegang dengan kuat jika ibu jari ikut memegang. Ibu jari memperkuat jari-jari yang lain untuk kuat memegang sesuatu. Hal yang sama berlaku pada kaki. Kaki berfungsi untuk berjalan akan dipahami anak jika dia sudah mulai menggunakan kakinya untuk berjalan. Ketika anak memanjat pohon, ibu jari kakinya juga berperan untuk mencengkeram kuat pada batang pohon. Jika tidak ada ibu jari kaki, misalnya karena anak dipakaikan kaus kaki, maka tentulah kakinya sulit memijak di batang pohon. Perhatikan pula bahwa anak lebih cepat berjalan dan berlari jika ibu jari kakinya terbebaskan ketika bergerak.
Karenanya tidak mengherankan bahwa anak-anak di hoikuen dan youchien di Jepang tidak dibiasakan memakai kaus kaki atau sepatu. Mereka tidak perlu takut serangga yang akan menggigit kakinya, air yang akan mengotori tapak kakinya, atau kerikil-kerikil yang mungkin akan menusuk kaki. Makin tebal tapak kaki anak, makin bagus itu ! begitu kata seorang pengasuh di hoikuen.
Di SD pelajaran olahraga diberikan 3 kali dalam seminggu selama 45 menit setiap kali pertemuan. Jumlah jam pelajaran olahraga di SD per tahunnya adalah sbb, kelas 1 SD adalah 102 unit jam, kelas 2, 3, dan 4 sebanyak 105 unit jam, dan kelas 5 dan 6 masing-masing 90 jam plus pelajaran jasmani 12 jam (total 597 jam). Sebagai pembanding jam olahraga di SMP kelas 1-3 masing-masing 105 jam (total 315 jam) yang naik dari 90 jam (total 270 jam) di periode sebelumnya.Diskusi tentang perubahan ini silakan dibaca di sini.
Prinsip dari tubuh yang sehat lahirlah jiwa dan otak yang sehat pula tercermin dalam aktifitas belajar di sekolah. Tentu saja kesehatan tubuh dan jiwa siswa tidak ditentukan oleh pelajaran olahraga saja, tetapi juga oleh asupan makanan di dalam tubuh. Sekalipun pihak sekolah menyiapkan makan siang yang sudah terdeteksi dan terjaga nilai gizi dan besaran asupan, di rumahpun orang tua dianjurkan untuk menyediakan makanan yang paling tidak serupa kandungan gizinya.
Penyakit flu gampang sekali menular di kalangan anak-anak. Oleh karena itu, orang tua yang mempunyai anak di hoikuen, youchien, dan SD kelas rendah setiap hari perlu melaporkan kepada guru tentang kondisi tubuh, misalnya suhu badan siswa, terutama bila anak menunjukkan gejala-gejala sakit. Jika suhu badan mencapai 39 derajat, anak tidak diperkenankan masuk sekolah.
Untuk mengajarkan anak-anak tentang perlunya menjaga kesehatan, di hoikuen dan youchien serta SD ada kebiasaan mencuci tangan dan melakukan ugai (berkumur-kumur) setiap kali masuk sekolah atau selesai bermain/jam istirahat. Kebiasaan menggosok gigi bersama juga menjadi acara wajib setelah makan siang.
B. Pendidikan Hati (Perilaku)
Jika dibandingkan dengan karakter etnis di dunia ini, saya kira orang Jepang termasuk dalam kategori orang yang sangat peka. Kepekaan itu bukan terkait dengan diri pribadi tetapi berhubungan dengan orang lain. Misalnya, ketika mereka bersikap atau bertindak, yang pertama kali dipikirkan bukan keberhasilan pribadi tetapi apakah orang lain tidak terganggu dengan tindakan itu.
Adab menghormati orang lain diajarkan dengan pembiasaan sikap misalnya menyapa dengan suara lantang, tidak malu-malu, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, yang sebenarnya di sekolah di Indonesia semestinya sudah diajarkan kepada siswa-siswa kita. Guru meminta maaf kepada siswa adalah hal yang biasa. Demikian pula siswa kepada guru.
Suatu hari ada seorang murid SD Jepang menghina anak teman saya yang kulitnya hitam (karena orang Indonesia
) dengan mengatakan si anak tidak pernah mandi. Kejadian ini didengar oleh teman saya, dan tentu saja dia emosi karena anaknya dihinda (padahal anaknya biasa saja). Teman saya pada kesempatan lain menemui kakak si anak Jepang dan menyuruhnya minta maaf. Tak lama kemudian si anak yang bersalah datang menemui teman saya dan berteriak, “Fira no okaasan, gomen nasai !” (Mama Fira, mohon maaf sekali !) sambil membungkuk 90 derajat. Sikap membungkuk saat memberi salam dan meminta maaf diajarkan di lembaga sekolah hingga di tempat-tempat kerja. Misalnya saja, ketika menyapa, maka cukup menganggukkan kepala, ketika memperkenalkan diri, membungkuk dengan sudut sekitar 30-45 derajat, dan saat meminta maaf membungkuk dengan sudut 90 derajat.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa anak muda Jepang gampang sekali bunuh diri jika mereka dihina. Pilihan bunuh diri saya kira diambil karena mereka sangat malu terhina. Jadi, jika mereka dihina dan tidak dapat melawan hinaan itu, mereka memilih mengakhirinya dengan bunuh diri. Masalah membesarkan hati anak, menumbuhkan kepercayaan diri mereka dan meningkatkan kepercayaan anak kepada orang dewasa, menjadi salah satu muatan pendidikan moral yang sedang dibahas dan dianjurkan pengejawantahannya di sekolah-sekolah.
Untuk melatih kepekaan anak terhadap lingkungannya, Jepang dapat diacungi jempol. Masalah sampah yang menjadi momok di banyak negara berkembang dan negara maju, dapat dilewati negeri ini dengan sistem pendidikan yang keras/disiplin dan penyediaan fasilitas yang mengikutinya. Pengetahuan tentang air bersih dan perlunya menjaga sumber-sumber air diajarkan dengan pola pembelajaran luar kelas, yaitu dengan mengunjungi PAM setempat, atau pada kegiatan lain mendatangi mata-mata air, sungai-sungai dan mengenali dari mana air yang mereka minum sehari-hari berasal, dan apa akibatnya jika sumber dan aliran air itu terkotori.
Pendidikan perilaku lainnya adalah kesopanan dalam berkendara. Mengapa jarang sekali kita mendengar bunyi klakson di Jepang, mengapa hampir tidak pernah kita mendengar keluhan saat mereka antri panjang, mengapa saat terjadi gempa, anak-anak dengan tertibnya bersembunyi di bawah meja dan antri berjalan menuju tempat yang aman ? Semuanya adalah pendidikan yang rutin diberikan. Latihan gempa diajarkan setiap bulan, latihan adab kesopanan berkendara diajarkan dalam pelajaran seikatsu ka (life skill).
Materi-materi karakter dasar ini diajarkan pada level hoikuen, youchien, dan SD. Dan tidak diajarkan lagi saat mereka SMP, karena dianggap mereka sudah memahaminya dengan baik, sebab sudah dibiasakan sehari-harinya. Dalam hal ini pendidikan hati/perilaku diajarkan melalui pembiasaan dan bukan ceramah di dalam kelas.
Sekali-sekali dalam pelajaran bahasa Jepang di SD, dan juga sejam pelajaran moral dengan wali kelas, guru membacakan kisah teladan, dan atau menunjukkan film, yang kemudian akan dikomentari oleh anak-anak.
Beberapa sekolah yang saya kunjungi juga menerapkan absensi kegiatan rumah kepada para siswanya, misalnya saja apa yang mereka kerjakan untuk membantu ibunya di rumah, berapa jam mereka belajar, menonton TV, dan membantu ibunya. Terlepas dari akan ada anak dan orang tua yang tidak peduli dengan hal ini, yang terpenting adalah sistem pembiasaan sudah disusun dengan pendekatan yang holistik.
C. Pendidikan Otak
Pendidikan otak atau pengajaran ilmu pengetahuan adalah hal yang mulai ditekankan di level SD kelas atas, dan semakin ditekankan di SMP dan SMA. Oleh karenanya jika dibandingkan dengan siswa SD di Indonesia, siswa SD di Jepang mempelajari cakupan materi yang lebih sedikit, tetapi mereka akan sangat lebih unggul dibandingkan dengan siswa kita jika diberikan soal-soal pemahaman dan analisa. Itu karena bukan metode menghafal yang ditekankan kepada mereka, tetapi metode memahami dan bisa.
Untuk bisa memberikan pendidikan ilmu pengetahuan yang lebih baik, seorang guru di Jepang dituntut tidak saja memahami pedagogi mengajar, tetapi lebih dari itu menguasai bidang keilmuwannya. Oleh karena itu per sepuluh tahunan, setiap guru harus mengikuti pembaharuan sertifikat. Dan saat mengikuti pembaharuan tersebut, guru harus mengambil kuliah di fakultas yang sesuai dengan bidang keilmuwannya.
Pendidikan tiga dimensi dengan urutan semacam itu (tubuh–>hati–>otak) diterapkan di semua sistem pendidikan Jepang. Jadi, bukan otak yang diutamakan tetapi tubuh yang harus dibina terlebih dahulu, dan setelah terbentuk fondasi tubuh yang mantap, anak-anak baru dikembangkan hati dan otaknya. Pengembangan otak bisa dipesatkan dengan fondasi tubuh dan hati yang sudah terbangun dan terbentuk dengan baik. Namun jika tubuh dan motorik belum terbentuk dengan baik, maka hati dan otak tidak dapat dikembangkan dengan optimal.
Rabu, 07 Maret 2012
Sebab... Surga juga ada pada keikhlasan mereka... ;-))
Wahai wanita...
Tahukah anda, bahwa kaum pria sesungguhnya jauh lebih sering "menangis"???
Namun mereka menyembunyikan tangisannya didalam kekuatan akalnya..
Itulah mengapa ALLAH Ta'ala menyebutkan bahwa pada pria terdapat dua kali lipat akal wanita, dan itulah sebabnya mengapa tiada yg anda lihat selain ketegarannya.
Pria menangis karena tanggung jawabnya dihadapan Tuhan.
Ia menjadi tonggak penyangga rumah tangga...
Menjadi pengawal bagi Ibu, saudara perempuannya, Istrinya dan juga anak2nya.
Maka tangisnya tak pernah nampak di bening matanya
Tak bisa anda lihat tangisnya pada keluh kesah di lisannya...
Tangis pria adalah pada keringat yg becucuran demi mencari nafkah tuk keluarganya
Pria "menangis" dalam letih dan lelahnya menjaga keluarganya dari kelaparan.
Tak dapat anda dengar tangisnya pada omelan2 di bibirnya...
Pria "menangis" dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari dan deras hujan serta dinginnya angin malam.
Tak nampak tangisnya pada peristiwa2 kecil dan sepele...
Pria "menangis" dalam kemarahannya jika kehormatan diri dan keluarganya digugat
Pria "menangis" dgn sigap bangunnya dikegelapan malam hari demi menghadapi bahaya yg datang menghampiri keluarganya digelap malam...
Pria "menangis" dgn bercucuran peluhnya dalam menjemput rizki...
Pria "menangis" dgn menjaga dan melindungi org tua, anak dan istri...
Pria "menangis" dgn tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya...
Namun pria pun sungguh-sungguh bisa menangis dgn linangan air matanya, di kesendiriannya menyadari tanggung jawabnya yg begitu besar di hadapan Tuhan
Maka...
Pandanglah Ayah
Pandanglah Suami
Dgn pandangan cinta yg penuh keikhlasan...
Sebab... Surga juga ada pada keikhlasan mereka... ;-))
Tahukah anda, bahwa kaum pria sesungguhnya jauh lebih sering "menangis"???
Namun mereka menyembunyikan tangisannya didalam kekuatan akalnya..
Itulah mengapa ALLAH Ta'ala menyebutkan bahwa pada pria terdapat dua kali lipat akal wanita, dan itulah sebabnya mengapa tiada yg anda lihat selain ketegarannya.
Pria menangis karena tanggung jawabnya dihadapan Tuhan.
Ia menjadi tonggak penyangga rumah tangga...
Menjadi pengawal bagi Ibu, saudara perempuannya, Istrinya dan juga anak2nya.
Maka tangisnya tak pernah nampak di bening matanya
Tak bisa anda lihat tangisnya pada keluh kesah di lisannya...
Tangis pria adalah pada keringat yg becucuran demi mencari nafkah tuk keluarganya
Pria "menangis" dalam letih dan lelahnya menjaga keluarganya dari kelaparan.
Tak dapat anda dengar tangisnya pada omelan2 di bibirnya...
Pria "menangis" dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari dan deras hujan serta dinginnya angin malam.
Tak nampak tangisnya pada peristiwa2 kecil dan sepele...
Pria "menangis" dalam kemarahannya jika kehormatan diri dan keluarganya digugat
Pria "menangis" dgn sigap bangunnya dikegelapan malam hari demi menghadapi bahaya yg datang menghampiri keluarganya digelap malam...
Pria "menangis" dgn bercucuran peluhnya dalam menjemput rizki...
Pria "menangis" dgn menjaga dan melindungi org tua, anak dan istri...
Pria "menangis" dgn tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya...
Namun pria pun sungguh-sungguh bisa menangis dgn linangan air matanya, di kesendiriannya menyadari tanggung jawabnya yg begitu besar di hadapan Tuhan
Maka...
Pandanglah Ayah
Pandanglah Suami
Dgn pandangan cinta yg penuh keikhlasan...
Sebab... Surga juga ada pada keikhlasan mereka... ;-))
Mau ngukur kapasitas paru-paru???
Ceritanya nih, anak-anak kelas XI IA (Ilmu Alam) sudah masuk bab RESPIRASI alias PERNAFASAN. Nah, ketika sudah sampai pada topik KAPASITAS PARU-PARU saya berencana melakukan praktikum mengukur kapasitas paru-paru manusia, baik udara tidal, udara komplementer, udara suplementer, dan udara residu. Eng..Ing..Eng.. sekolah tak memiliki alat yang namanya spirometer (alat untuk mengukur kapasitas paru-paru). Alhasil, saya berinisiatif membuat yang murah meriah dan yang penting bisa dipakai. Setelah mencari info kesana-kemari hasilnya saya musti menyiapkan bahan-bahan sebagai berikut:
- Botol air mineral bekas 1500 cc 2 buah
- selang bening dengan panjang 1 m
- 1 buah balon tiup
- plastisin
- air
- blok meter
Langkah kerja:
- melubangi botol tepat di bawah mulut botol, besar lubang disesuaikan dengan besar diameter selang yang digunakan.
- memberi label pada botol A dan B
- memasukkan air pada botol A dengan tinggi sampai di bawah lubang
- memasang blok meter di botol B
- masukkan ujung selang satu pada botol A dan ujung satunya pada botol B yang kosong
- meniup balon dengan hembusan nafas sekeras-kerasnya (udara suplementer)
- menutup balon hingga rapat, kemudian memasang balon di mulut botol A yang telah diisi air. Usahakan ketika memasang balon udara tidak sampai keluar.
- mengamati aliran air
- mengukur tinggi air yang ada di botol B
- mengukur volume air yang setara dengan volume udara suplementer.
RUMUS:
V= Luas alas x Tinggi air
karena luas alas berupa lingkaran maka: L alas = phi x r x r
![]() |
| Spirometer made in saya dan bapak :D |
![]() |
| Memasang balon yang sudah ditiup |
![]() |
| Air pada botol A pelan-pelan berpindah ke botol B |
![]() |
| Air semakin banyak yang berpindah |
![]() |
| Balon akan semakin mengempis karena udara dari balon keluar dan menekan air sehingga air berpindah |
![]() |
| Ckckckc... nggak mbois blas meterane :)) |
Sebenarnya cara kerja alat ini sangat sederhana. Air yang diberi tekanan akan keluar menuju botol B melalui selang yang sudah dipasang. Tekanan ini berasal dari udara yang sudah ditiupkan ke dalam balon, dimana udara yang dihembuskan sekuat-kuatnya adalah volume udara suplementer. Sehingga banyaknya air yang berpindah sebanding dengan udara suplementer.
Mudah bukan??? ^^v
Seandainya ada...Saya pasti..
Seringkali saya berfikir, apakah jilbab itu
menunjukkan pengekangan terhadap muslimah atau justru kemerdekaan bagi
muslimah?
sebenarnya saya tipe muslimah yang suka berpetualang, mencoba hal-hal yang baru, dan melakukan kegiatan yang menantang.
saya ingin bebas mendaki gunung dengan teman-teman akhwat, arung jeram, panjat dinding, diving, atau snorkeling. Tapi apa daya, fasilitas di negeri ini tidak ada yang khusus muslimah, tidak ada Muslimah Zone yang bisa dinikmati oleh setiap muslimah yang semestinya juga ingin menikmati indahnya bawah laut, tegangnya ketika arung jeram, dan inginnya merasakan lonjakan adrenalin ketika panjat dinding. Ku yakin yang salah bukan pakaian muslimahnya tapi...............???
sebenarnya saya tipe muslimah yang suka berpetualang, mencoba hal-hal yang baru, dan melakukan kegiatan yang menantang.
saya ingin bebas mendaki gunung dengan teman-teman akhwat, arung jeram, panjat dinding, diving, atau snorkeling. Tapi apa daya, fasilitas di negeri ini tidak ada yang khusus muslimah, tidak ada Muslimah Zone yang bisa dinikmati oleh setiap muslimah yang semestinya juga ingin menikmati indahnya bawah laut, tegangnya ketika arung jeram, dan inginnya merasakan lonjakan adrenalin ketika panjat dinding. Ku yakin yang salah bukan pakaian muslimahnya tapi...............???
Kamis, 01 Maret 2012
16 Alasan Menghapal Al Qur’an
Setidaknya itu yang harus kita renungkan
sama-sama sebagai seorang muslim sejati. Ya, menghapal Al Qur’an merupakan
suatu keniscayaan dalam kehidupan setiap muslim. Ia tidak akan bisa menerapkan
Islam secara baik tanpa interaksi yang kuat dengan Al Qur’an sebagaimana para
generasi sahabat dan salaf shaleh dahulu lakukan.
Untuk memotivasi kita agar bisa dekat Al
Qur’an dan berjuang menghapalkan aya-ayatnya, maka setidaknya ada 16 alasan
kenapa kita harus menghapal Al Qur’an,
1. Menghapal adalah landasan awal ketika
Rasulullah menerima Al Qur’an dari malaikat Jibril alaihissalam.
“Bahkan Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang
menjelaskan (terdapat) di dalam dada-dada orang-orang yang diberikan ilmu..”(QS
Al Ankabut, 49).
Sungguh, betapa indahnya ayat ini yang
menjelaskan tentang agungnya aktifitas dada orang-orang yang menghapal
ayat-ayat Allah swt. Allah mensifatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang
diberikan ilmu. Lalu, apakah ada yang disebut ilmu selain yang termuat dalam Al
Qur’an Al Karim?
Ayat di atas menjelaskan bahwa Dia akan
memilih dari sekian hamba-hambaNya di muka bumi untuk kemudian dada akan
dijadikan sebagai wadah bagi firman-firmanNya. Sungguh ini merupakan keutamaan
yang besar.
Malah ketika kita mau memperhatikan kekhususan
yang diberikan kepada umat ini, – di mana dada para ulamanya penuh dengan Al
Qur’an- kita semua pasti akan mengetahui berharganya menjadi para penghapal
kitab-Nya.
2. Al Qur’an adalah sumber dan muara semua
sistem dan undang-undang umat ini
Karena Al Qur’an ini adalah undang-undang kita
selaku umat Islam, maka kita wajib untuk berhukum dengannya dan menjadikannya
sebagai sumber hukum bagi orang lain. Darinya referensi bagi semua persoalan
dan tasyri’ (perundang-undangan). Tidak ada persoalan yang kecil ataupun besar
sekalipun melainkan dijelaskan secara jelas di dalamnya. Ini sebagaimana firman
Allah dalam ayat-Nya,
“Tidaklah Kami berlebih-lebihan (dalam
menjelaskan) di kitab ini sedikitpun..”
“Dan tidaklah Tuhanmu lupa.”
Al Qur’an ini adalah cahaya yang dibawa umat
untuk menerangi seluruh manusia agar risalahnya tersampaikan dengan menyeluruh,
layaknya sebuah umat yang dilahirkan untuk manusia seluruhnya dan sebagai saksi
atas mereka di dunia dan akhirat.
3. Menghapal Al Qur’an adalah fardhu kifayah.
Sebagian ahli ilmu menegaskan bahwa menghapal
Al Qur’an itu merupakan kewajiban atas umat ini. Yang apabila telah dilakukan
oleh sebagian kaum, maka akan terbebaslah kaum yang lain dari dosanya.
Badruddin Zarkasyi mengatakan, “Sahabat-sahabat
kami mengatakan, ‘Belajar Al Qur’an itu hukumnya fardhu kifayah. Dan kegiatan
menghapalkannya adalah wajib atas umat ini.’”
4. Menghapal Al Qur’an itu berarti meneladani
Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam.
Allah telah menjadikan Rasulullah shalallahu
‘alaihi was salam, Muhammad sebagai teladan yang baik bagi umat ini. Dan
menghapal Al Qur’an itu sendiri adalah bagian dari meneladani sunnah-sunnahnya.
Itu dikarenakan Rasulullah selalu menghapalkannya, rajin membacanya dan disimak
oleh malaikat Jibril as. Demikian pula, Rasulullah menyimakkannya kepada para
sahabatnya dan para sahabatnya menyimakkan kepada beliau.
5. Menghapal Al Qur’an juga sama dengan
meneladani para salaf shalih.
Menghapal Al Qur’an di masa kanak-kanak dan
masa muda adalah bagian mencontoh salaf sholeh, menapaki jejak mujahadah
(kesungguhan) mereka dan menempuh contoh jalan hidayah Allah. Dahulu, salaf
sholeh memulai menghapal Al Qur’an sebelum menghapal ilmu-ilmu lain dan
memberikan perhatian lebih kepadanya sebelum kepada disiplin keilmuan lainnya.
Tidaklah anda membaca tentang biografi para ulama dahulu melainkan engkau pasti
akan membaca di dalamnya bahwa ia, “menghapal Al Qur’an dahulu lalu baru
kemudian menuntut ilmu-ilmu keislaman lainnya.”
6. Menghapal Al Qur’an adalah karakteristik
umat Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam.
Imam Jazari mengatakan, “Dahulu itu, para
ulama menukilkan Al Qur’an melalui dada-dada dan hati-hati yang dipenuhi
hapalan Al Qur’an. Bukan melalui tulisan mushaf dan kitab-kitab. Inilah karakteristik
yang paling mulia yang Allah berikan kepada umat ini.”
Sungguh, aktifitas menghapal Al Quran ini akan
senantiasa menjadi syiar bagi umat ini dan menjadi duri di kerongkongan
musuh-musuh Islam.
Laura Faghliry, wanita orientalis mengatakan,
“Sungguh, hari-hari ini kita tidak bisa membendung terjangan ombak keimanan
ribuan umat muslim yang mampu mengulang-ngulan bacaan Al Qur’an dengan hapalan.
Di Mesir sendiri jumlah huffazul qur’an(penghapal Al Qur’an) jauh melebihi
jumlah kaum Nasrani yang mampu membaca Injil secara hapalan di seluruh Eropa.”
James Minzez, seorang non Islam yang
diharamkan mendapatkan cahaya Al Qur’an mengatakan, “Mungkin itulah, Al Qur’an
merupakan kitab yang paling banyak dibaca manusia di atas dunia ini. Sungguh,
ia adalah bacaan yang paling mudah dihapal manusia.”
7. Menghapal Al Qur’an adalah proyek ibadah
yang tidak mengenal bahasa kegagalan.
Takut gagal dan tidak berhasil saat ini sudah
menjadi rintangan dan sekat yang menghalangi antara seseorang dan
angan-angannya. Dan bisa jadi semua akhir dari semua proyek manusia adalah
benturan keras yang terjadi karena sekat kegagalan dan ketidakmampuan untuk
melanjutkan sebuah pekerjaan. Akan tetapi proyek menghapal Al Qur’an tidak akan
pernah mengenal yang namanya pemikiran tersebut.
Ketika seorang pemuda memulai pekerjaan
menghapal Al Qur’an ini, kemudian berhenti dan melemah tekadnya sebelumnya
selesai menghapal, apakah bisa dikatakan ia telah gagal sesungguhnya, misalnya
saja ia telah menghapal beberapa juz?! Tentu saja usahanya tidak sia-sia dalam
sekejap. Hanya saja hapalannya itu hilang sejenak. Seluruh waktu yang pernah ia
kerahkan untuk membaca dan menghapal yang membuatnya mengorbankan segala
kenikmatan dunia tentu saja adalah bagian dari ketaatan kepada Allah swt. Bisa
dibayangkan, berapa surat dan berapa ayat yang pernah ia ulang-ulang?!
Sementara setiap huruf akan dibalas dengan sepuluh kali lipat oleh Allah swt.
8. Menghapal Al Qur’an itu mendapat garansi
kemudahan untuk semua orang.
Banyak orang yang bercita-cita bisa merealisasikan
impiannya dan mengukir prestasi yang memuaskan. Namun, seringkali kemampuan
akalnya menjadi penghalang untuk menggapai itu semua. Tapi tidak untuk Al
Qur’an. Bisa kita saksikan betapa banyak orang-orang yang memiliki keterbatasan
fisik dan lemah dalam hapalan, tapi mampu menghapal Al Qur’an.
Al Qurthubi mengatakan tentang ayat, “Sungguh
telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk diambil pelajaran.”(QS Al Qomar, 17), yakni,
“Kami mudahkan Al Qur’an ini untuk dihapal, dan akan Kami bantu mereka yang mau
menghapal. Lalu, adakah orang yang mau menghapal lalu mendapatkan
pertolongan-Nya?”
9. Penghapal Al Qur’an adalah keluarga Allah
dan orang-orang pilihan-Nya.
Di antara penyempurnaan penghormatan Allah
dalam menjaga kitab suci-Nya adalah dengan menjadi dari hamba-hamba-Nya yang
hapal Al Qur’an. Sungguh itu merupakan sebuah kehormatan yang tidak ada
bandingannya bagi manusia di dunia ini. Di mana dengan sifat itu seorang hamba
yang fakir dan lemah menjadi keluarga dan orang-orang pilihan-Nya. Keluarga dan
orang-orang pilihan-Nya itu tent lebih patut memperoleh rahmat, pemaafan, cinta
dan dekat dengan-Nya tabaroka wata’alaa.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari
Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam ia berkata, “Sesungguhnya Allah
memiliki ‘keluarga’ di antara manusia sekalian.” Para sahabat bertanya, “Siapa
mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahlul qur’an dan
orang-orang pilihan-Nya.” (HR Ibnu Majah)
Silahkan saja setiap manusia bangga dengan
predikat yang ia miliki di dunia ini. Entah itu ia ahli harta, ahli seni
ataupun ahli olahraga. Silahkan pula sebut nama-nama itu semua pada setiap
kamus yang ada dengan sifat dan pujiannya. Apakah ada yang lebih baik dari pada
sifat yang dimiliki oleh seseorang yang bergelar ‘keluarga Allah dan hamba
pilihan-Nya.’?
10. Menghormati Penghapal Al Qur’an
berarti mengagungkan Allah swt.
Dari Abu Musa Al Asya’ri radiyallahu anhu ia
berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Di antara bentuk
mengagungkan Allah adalah memuliakan orang tua yang muslim, memuliakan
penghapal Al Qur’an yang taat dan menghormati setiap pemimpin yang adil.” (HR
Abu Dawud).
Inilah dalil tentang ketinggian kedudukannya
dan kebesaran perannya.
11.Akan ditempatkan bersama duta-duta yang
mulia lagi berbakti (para malaikat).
Dari Aisyah radiyallahu anha bahwa nabi
shallahu alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an
sementara ia hapal akan ditempatkan bersama para duta-duta Allah yang mulia
lagi berbakti. Dan perumpamaan orang yang membacanya dalam keadaan berat namun
ia tetap berusaha, maka baginya dua pahala.”(HR Bukhari)
Sudah tidak bisa pungkiri saat ini manusia
begitu berbangga diri ketika menyandarkan diri kepada salah seorang pembesar
atau seorang tokoh agama yang penuh dengan ketenaran. Bisa jadi itu pada bidang
olahraga ataupun sia-sia yang penuh kebatilan. Sungguh itu merupakan kecelakaan
besar karena keteledoran diri. Namun demikian indah bagi para penghapal Al Qur’an
ketika mereka memilih bersama para duta-duta Allah yang suci (malaikat).
12. Akan memperoleh syafa’at di hari kiamat.
13. Penghapal Al Qur’an orang yang seharusnya
di-iri-i (dalam arti yang positif) oleh orang lain.
Dalam hidup ini Allah telah melebihkan derajat
satu golongan dengan golongan yang lainnya.
“Dan telah Kami lebihkan sebagian dari mereka
atas sebagian yang lainnya. Dan negeri akhirat lebih besar derajatnya dan lebih
banyak keutamaannya.”(QS Al Isra’, 21)
Dari Ibnu Umar radiyallahu anhuma Rasulullah
shalallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Tidak boleh merasa hasud melainkan pada
dua golongan, “Seseorang yang Allah berikan kepadanya Al Qur’an, lalu ia
membacanya siang dan malam. Dan seseorang yang Allah karuniakan hartan kekayaan
lalu ia menginfakkan hartanya itu siang dan malam.” (HR Bukhari dan Muslim)
14. Para penghapal Al Qur’an akan berada di
surga yang paling tinggi.
Rasulullah bersabda, “Akan dihadirkan
penghapal Al Qur’an pada hari kiamat, lalu dikatakan kepadanya, “Wahai Robb,
berikanlah ia hiasan.” Maka iapun dikalungkan mahkota kemuliaan.” Lalu
dikatakan lagi, “Ya Robb, tambahkanlah ia.” Maka ditambahkan mahkota kemuliaan
kepadanya. Kemudian dikatakan lagi kepadanya, “Ya Robb, ridhoilah ia.” Akhirnya
dikatakan kepadanya, “Bacalah dan naiklah. Sesungguhnya bagimu setiap ayat
adalah satu kebaikan.” (HR Tirmizi, Hakim dan hadits ini dihasankan statusnya
oleh syekh Albani).
15. Menghapal Al Qur’an di antara sebab-sebab
terbebasnya seseorang dari siksa neraka.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam
bersabda, “Seandainya Al Qur’an ini diletakkan di hati seorang mukmin, kemudian
dilemparkan ke dalam neraka, niscaya tidak akan terbakar hatinya.”(HR Ahmad)
16. Bank kebaikan.
Sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi was salam,
“Barangsiapa yang membaca satu ayat dalam Al Qur’an maka baginya satu kebaikan.
Dan setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan alif
laam miim itu satu huruf. Tapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu
huruf.”(HR Tirmizi, ia mengatakan hadits ini hasan shahih).
Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi
hamba-hamba-Nya yang hapal dan memahami Al Qur’an serta mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari, Amiin Ya Rabbal a’lamin. Wallahu a’lam bish-shawab.
Langganan:
Postingan (Atom)








