Ganbatte kudasai,,!!

Ganbatte kudasai,,!!
Belajar,,Belajar,,

Ahlan Wasahlan..


“Ambillah hikmah dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62)

Jumat, 10 Februari 2012

Saat Dia Berpaling (Final; 4)


Akhirnya aku putuskan untuk bertanya padamu, Bang. Setelah batinku lelah terus menanggung pilu yang semakin menggunung dan menyesakkan dada.
Kau sangat terkejut dan tak menyangka aku tahu sebanyak itu bukan?
Pertama kali aku mengetahui tentang kalian memang belum lama, baru empat bulan lalu, ketika terbaca sms-sms mesra kalian dalam ponselmu yang tertinggal di rumah hari itu. Secara naluri, aku langsung menelpon perempuan itu, berpura-pura menanyakan sesuatu. Suara yang sangat ketus menyatakan salah sambung!
Malam ketika kau pulang, aku bertanya baik-baik padamu, Bang. Mulanya kau menyangkal. Namun setelah kutunjukkan bukti-bukti, kau menangis. Kau bilang kalian baru dekat 3 bulan saja dan hanya lewat email dan telpon. Dia curhat padamu, kau meladeni dan akhirnya kalian semakin akrab. Aku tahu kau tak pernah berdusta. Jadi ketika kau nyatakan kau bertobat dan meminta aku memaafkanmu sambil menangis, meski perih aku menerimamu kembali. Apalagi kau bilang, janda beranak dua itu, pernah mengajak bertemu tapi kau menolak. Dan menurutmu kalian belum pernah bertemu. Kau hapus segala tentangnya, juga nomornya di ponselmu.
Hari pun berlalu dan rumah tangga kita semakin baik. Ah, sebenarnya sejak dulu kita juga baik-baik saja kan? Aku berusaha untuk lebih berubah lagi, mengikuti keinginan dan imajimu tentang seorang ibu rumah tangga. Sampai bulan ini entah mengapa aku mencium gelagat yang lain darimu.
Teman dekatku pernah berkata, ada beberapa tanda seorang suami berpaling:
Lebih suka jalan sendiri daripada bersamamu
Lebih mudah marah
Lebih memilih main game sampai larut malam daripada bicara denganmu
Tidak suka bicara soal kehidupan rumah tangga sendiri
Membawa HP ke sudut manapun meski hanya dalam rumah
Lebih memperhatikan penampilan , tapi tak membutuhkan saranmu
dll
Waktu itu aku cuma tertawa mendengarnya. Namun kemudian kuperhatikan, semua ada padamu. Kau tahu, Bang, aku sudah tak pernah lagi mau memeriksa ponselmu, sejak peristiwa pertama itu berlalu. Bukankah sejak dulu aku memang seperti itu? Aku ingin menghargai privasimu. Aku percaya padamu.
Lalu entah mengapa, sebulan lalu, perasaanku tak enak. Senja merah dan saat kau lengah, kubaca isi ponselmu. Memang tak ada sms mesra dari perempuan itu seperti dulu. Tapi seseorang bernama “Doni” mengirim sms padamu dengan gaya bahasa yang sama dengannya. Aku terhenyak dan seperti disadarkan. Mengapa, Bang? Mengapa kau jalin lagi hubungan dengannya, padahal kau sudah berjanji untuk setia padaku dan Allah setelah peristiwa pertama? Dan ia yang kau namai “Doni” adalah perempuan itu! Mengapa? Mengapa harus berdusta padaku dengan menyamarkan namanya menjadi nama lelaki?
Aku mulai mengerahkan semua panca indera, juga mata ketigaku untuk melihat hubunganmu dengannya.
Tanpa setahumu, aku menyelidiki perempuan itu. Aku tahu nama, alamat, juga nomor-nomor ponselnya. Aku tahu siapa dia, mengapa ia bercerai dari suaminya, dan lain-lain.
Ketika ada beberapa kali kesempatanmu menginap di kota B, kau pergi dengan sangat riang. Entah mengapa suatu hari, aku terusik dan…mengikutimu!
Aku tahu di sana kau memang benar-benar bekerja, Bang. Tapi aku merasa kau pasti pernah bertemu dengannya, setidaknya saat itu, kala aku menemukan kalian dengan mata kepalaku sendiri. Kalian makan minum bersama di tempat yang kau bahkan belum pernah mengajakku ke sana. Aku melihat caramu dan cara dia menatap satu sama lain. Dan kau tak menyadari bukan? Dengan tubuh menggigil karena kehujanan, aku berdiri di dekat jendela, lalu bergeser ke pintu dan memandang kalian dengan penuh luka…Kau, dia tertawa-tawa dengan mesranya, tanpa beban…Dadaku berdegup keras. Ingin rasanya aku melabrak kalian! Atau kalau tidak, sekadar mendatangi dan memandang kalian dengan mata lara.
Namun sebuah sms dari anakmu menyadarkanku untuk pulang malam itu juga dari Kota B kembali ke Jakarta. Sepanjang jalan, dalam kendaraan umum, aku menangis. Ah, apa yang bisa kulakukan lagi saat itu selain menangis?
Ketika kau pulang, aku belum ingin berkata apa pun. Belum. Aku tetap mencoba melayanimu dengan riang. Aku berharap dengan ketulusanku, kau tergugah dan lebih mencintaiku, lebih mencintai keluarga kita yang telah terbangun belasan tahun ini.
Kemarin, entah mengapa aku gulana. Firasatku mengatakan ada yang tak beres. Saat kau ke kamar mandi, kulihat ponselmu. Benar, dia menghubungimu lagi! Dia bercerita bahwa dia sedang sakit dan mau ke rumah sakit bersama ibunya. Dalam sms lain ia bilang ia ingin ganti nomor ponsel karena merasa tak nyaman memikirkan mungkin aku tahu nomornya. Yang membuatku lebih tersentak adalah ketika di bagian sentyang belum sempat kau hapus, kau katakan padanya untuk menghanguskan nomor lama dan menggantinya dengan nomor CDMA seraya mengatakan kau yang akan membelikan ponselnya!
Pagi itu saat kau pamit ke kantor dan mengecupku, tubuhku bergetar menahan tangis yang nyaris meledak. Tapi kau tak membacanya…,kau memang tak pernah bisa membacaku dengan benar, Bang…
Lalu kemana aku harus berbagi cerita dan meminta saran? Kebanyakan temanku lelaki. Tapi apakah aku akan mengulang jalanmu dengan curhat pada mereka, lalu jadi makin dekat dan akhirnya berpeluang besar menghancurkan rumah tangga mereka? Tidak. Aku tak pernah mau ambil resiko. Aku hanya ingat seorang teman yang menyarankanku untuk menuliskan semua beban hidup agar terasa ringan. Aku bercerita padanya.
Dia mengatakan agar aku berani bicara padamu lagi. “Komunikasi adalah kunci utama keutuhan sebuah rumah tangga,” katanya.
Sebelum bicara padamu, mungkin juga pada perempuan itu, aku mendapat kekuatan dari sebuah tempat yang tak pernah kuduga: multiply! Di webnya, sahabatku mengangkat persoalanku dengan jati diri yang disamarkan. Kau tahu, Bang? Begitu banyak simpati, empati yang menghiburku. Mereka juga memberikan saran-saran yang sangat baik dan bisa langsung kuterapkan! Ah, aku berhutang budi pada mereka semua….
Awalnya aku mengirim sms…sebuah doa untukmu. Kau menjawabnya dengan riang, dan mengucapkan terimakasih. Lalu kukirim sms pada sahabat perempuanku, bahwa aku mengetahui hubungan kalian lebih jauh. Tapi Allah berkehendak lain. Jari-jariku lincah mengetik sms yang kemudian malah terkirim padamu itu!
Baru setengah jam setelah itu kau membalas. Kau bilang kau tetap cinta padaku. Kauakan bertobat dan kau meminta maaf untuk kedua kalinya (tak akan ada kata maaf yang ketiga. Aku berjanji padamu dan Allah, tulis sms mu). Aku masih terguncang, namun kutahan tangis saat menatap wajah anak kita. Saat itu aku sedang di rumah sakit, memeriksakan kesehatanku dan anak kita. Untuk pertama kalinya, kukirim sms pada dua nomor hp milik perempuan itu. Bukan amarah yang kukirim, hanya sebuah pertanyaan: Mengapa Anda memanfaatkan situasi dan terus menghubungi, mengganggu suami saya (jangan bilang anda tak memanggilnya cinta). Apa salah saya pada Anda? Tak ada jawaban. Tak pernah ada.
Malamnya kau pulang dan kita bicara baik-baik, meski aku sempat menangis sesenggukan. Aku minta kau bicara sejujurnya. Kau lebih banyak diam dan mendengarkanku dengan wajah menyesal.
“Jadi apa target hubungan kalian?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Tak ada,” paparmu. “TTM…”
Aku mual mendengarnya. TTM (Teman Tapi Mesra). Itu akan jadi lagu yang paling kubenci di dunia ini!
“Dulu abang bilang tak pernah bertemu dengannya. Mengapa abang berdusta?”
Kau menciumku dan berulangkali minta maaf. “Hanya mengobrol, curhat-curhatan saja. Tolong maafkan aku….”
Hatiku semakin ngilu.
“Bisakah aku memaafkanmu, Bang? Mungkin bisa…tapi tidak sekarang….”
Aku lalu memintamu untuk istikharah memilih aku atau dia…
Kau mendesah. “Aku tak ingin kita berpisah. Aku memilihmu. Aku masih mencintaimu,” bisikmu. “Aku tak akan berhubungan lagi dengannya, dalam bentuk apa pun.”
Aku masih menangis.
Esoknya keadaan agak membaik. Kau lebih memperhatikanku dan masih terlihat menyesal. Kau bahkan mengatakan tak ingin membawa HP dan memberiku password dua email-mu. Ketika kutanya nama lengkap dan alamat email perempuan itu, kau memberikannya….
Ketika berangkat kerja aku sudah berpikir , kau menyesal dan tak ingin mengulangi. Kau telah berkata sejujur-jujurnya. Maka apa yang menghalangiku untuk tak memaafkanmu? Pagi itu dari atas bis kota aku mengirim sms maafku padamu dan kau menyambut dengan sukacita. Kita mulai lagi dari awal ya…kita berjuang bersama, sayang! Kiss u! sms-mu.
Berakhir, pikirku. Berakhir…saatnya memaafkan….
Sore itu, iseng saja, kubuka emailmu---hal yang tak pernah kulakukan selama belasan tahun kita menikah. Kucek semua email darinya. Tak ada. Ah, tentu saja sudah kau hapus bukan? Namun aku tak menyerah…kuteliti lagi…! Dan aku terpana, melihat tiga imel dengan id yang berbeda, tapi tetap darinya. Mungkin kau lupa menghapusnya….
Ah, ternyata banyak yang tak kutahu tentang kalian. Sampai kemarin kau masih mengatakan hubungan kalian baru bulan puasa 2005 kemarin. Namun aku menemukan email dari perempuan itu pada tahun 2004, bahkan 2003! Rasanya aku ingin pingsan! Mengapa? Mengapa Abang tak jujur padaku? Kalian sudah menjalin hubungan selama 3-4 tahun! Ya Allah, sudah sejauh mana? Dalam email itu baru kusadari kalian tak pernah berkenalan melalui internet, email. Pada email bertahun lalu itu perempuan itu curhat padamu mengenai perceraian dengan suaminya. Suaminya terlibat hutang ratusan juta, dan perempuan itu dalam kesulitan ekonomi. Aku juga tahu kau sangat peduli padanya dan meminjamkannya sejumlah uang….sejak lama….
Kuraih ponselku. Minggu ini juga, aku ingin bertemu denganmu dan perempuan itu, untuk membicarakan persoalan kita dan hubungan kalian yang telah empat tahunan itu. Mungkin aku memang harus pergi. Mengapa kau harus berdusta, Bang?
Tiba-tiba kepalaku pusing, Bang…aku terjatuh dan tak ingat apa-apa lagi. Lamat-lamat hanya kudengar suara anak-anak berteriak. “Panggil taxi, ibu pingsan! Ayo. Cepaaaat! Kita ke rumah sakit!”
Ketika sadar, kulihat aku ada dalam dekapanmu. Kau membelai dan menciumku bertubi-tubi disertai kata-kata yang itu juga: “maaf”. Kulihat matamu basah….
Tapi aku terlalu lemas untuk menyapa. Hancur. Aku hanya mampu bertanya lemah, “Mengapa, Bang? Mengapa?”
Malam itu baru kau ceritakan semuanya secara utuh. “Aku takut kamu marah dan tak mau menerimaku lagi kalau aku ceritakan semua…,”katamu terisak. “Aku takut….maafkan aku….”
Aku hanya menatapmu dengan mata bengkak, nyaris tanpa kedipan…., “Mengapa?”
Pertemuan pertama kalian terjadi saat kau SD di sebuah kota. Kalian satu angkatan. Tapi kalian tak terlalu dekat. Sampai empat tahun lalu, saat terjadi reuni, kalian bertemu kembali. Lalu semakin akrab. Saat itu ia curhat padamu tentang suaminya yang terlibat hutang ratusan juta. Ia memintamu mencarikan pekerjaan untuk suaminya. Maka kau yang baik hati dan sebenarnya sangat sibuk pun benar-benar membantu, bahkan bolak balik ke kota B hanya untuk itu. Tapi suami perempuan tersebut benar-benar bermasalah, mereka bercerai dan kalian semakin dekat. Kau bahkan beberapa kali menginap di rumah perempuan itu!
“Tak terjadi apapun,” katamu bersumpah atas nama Allah. “Sentuhan fisik hanya terjadi saat kami bersalaman….”
“Apakah aku harus percaya itu?” aku sesenggukan….
“Aku sudah menceritakan semua, tak ada lagi yang kututupi,” katamu sambil membelaiku.
Aku hampa. Hambar….”Kalau kau mau pergi dari hidupku, inilah saatnya, Bang…aku rela…,” kataku pedih. “Aku juga tak mau menerimamu lagi kalau kau pernah melakukan itu dengannya….”
Kau terus mendekapku. “Tidak. Kami tak pernah melakukan itu. Ya Allah, aku tak ingin kehilanganmu,” ujarmu berulangkali....
“Aku tak bisa terus menerus memaafkanmu…,” lirihku sambil mengusap mataku yang memerah dan semakin membengkak..
“Ini yang terakhir, yang terakhir…,”katamu sambil mendekapku lebih erat. “Aku tak akan pernah meninggalkanmu selamanya! Tak akan..."
Empat tahun. Aku ingat empat tahun terakhir inilah aku kehilanganmu, suamiku. Kau yang dikenal sangat alim, kerap sholat subuh kesiangan. Kau juga mudah tersinggung, mudah marah, malas ngobrol dan seolah tak memperhatikanku. Kau memang lebih memperhatikan penampilan, tapi tak pernah meminta saranku. Kau lebih suka main game sampai lewat tengah malam, daripada berbicara denganku. Hubungan kita benar-benar hambar dan formal. Kau selalu sibuk dengan kerja, kerja dan kerja. Empat tahun ini tak pernah kurasakan kehangatan, juga dalam hubungan suami istri yang sekadarnya itu... Empat tahun ini kau seperti bukan dirimu!
Suara kentongan berbunyi dua kali. Kau masih mendekapku erat. Saat itulah kau berkata, kau seperti disentakkan. Kau merasa hubunganmu dengan Allah buruk sekali empat tahun terakhir. Kau juga sudah jarang mengaji. " Karena itulah aku lebih mudah tergoda dan berbuat hina seperti ini. Memalukan sekali. Maafkan aku...,aku akan memperbaiki hubunganku dengan Allah, dengamu...maafkan aku sayang...,aku sadar. Aku akan menebus empat tahun yang hilang itu. Ya Allah saksikanlah janjiku..."
Kita menangis bersama. Aku tahu sekali, Bang...pada dasarnya kau lelaki yang sangat baik. Kau tahu? Itulah sebabnya bertambah tahun, bertambah cintaku padamu...
Dan kau benar, hubungan yang rapuh denganNya membuat kita mudah tergelincir. Aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk memperbaiki diri, memperbaiki hubunganku dengan Allah, memperbaiki peranku sebagai istri, ibu sejati...dan semoga kita tak akan pernah saling menyakiti dan kehilangan lagi satu sama lain....
Malam itu kita bercinta dengan sepenuh hati. Ya, sepenuh hati, untuk pertama kali setelah empat tahun. Masih ada luka..., namun sungguh tak tergambarkan keindahannya bagiku...
"Aku mencintaimu dan tak akan pernah mau berpisah denganmu...,"bisikmu, "Maafkan aku, Cinta...."
Terimakasih untuk Helvy dan teman-teman multiply yang banyak memberi perhatian, saran sepenuh cinta dan doa. memang masih tersisa perih, tetapi kisah duka kami telah berakhir. Aku memutuskan memaafkan Abang dan melupakan semua nestapa, untuk terakhir kalinya...
Semoga kalian juga bahagia...amiin...

Saat Dia Berpaling (3)



"Kenapa, Ra?"

Suara di ponsel saya terdengar semakin terisak.

"Ternyata suamiku masih berhubungan dengan perempuan itu, Vy...."

"Astaghfirullah...,sejauh apa, Ra? Bagaimana kamu bisa tahu?"

"Aku membaca sms2 yang belum sempat dihapusnya...," suara Ra tercekat di kerongkongan. "Dia masih memanggil suamiku dengan sapa cinta...."

Aku menarik napas panjang. "Bagaimana balasan suamimu?"

"Aku lihat di bagian sent. Suamiku menjawab biasa saja...tapi memberikan atensi yang besar...," tangis Ra makin keras. "Aku takut kehilangan suamiku, Vy...."

Aku ikut tersayat. Apa yang ada di otak dan hati perempuan itu? Ra orang baik, suami Ra orang baik, mereka keluarga yang bahagia dan kini....

"Perempuan itu bilang dia sakit...,dia juga bertanya soal no hp yang dia curigai sudah aku ketahui...," tutur Ra lagi...

"Lalu bagaimana dengan respon suamimu?"

"suamiku udah nggak ngomong pakai cinta-cinta-an, tapi dia bilang nomor lama itu dihangusin saja..., dia meminta perempuan itu ganti nomor. Dia bilang dia akan belikan ponsel-nya! Membelikan ponsel, Vy!" Suara Ra tergugu. "Aku pusing, Vy...untuk pertama kalinya dalam hidupku, tiba-tiba aku ingin mati...."

"Ra...,sabar ya, Ra...sabar. Kamu lebih mendekatkan diri lagi saja pada Allah. Dia Yang Maha Menggenggam Hati. Minta sungguh-sungguh agar suamimu sadar...dan...."

"Apa, Vy?"

"Bicara dengan suamimu dan perempuan itu baik-baik...."

"Haruskah? Tidakkah ia bisa membacaku?"

"Bukankah selama ini ia telah keliru membacamu? Suamimu bahkan tak menyadari kamu tahu sejauh ini. Bicara, Ra. Tanya mereka mau apa? Lalu kalau mereka tetap ingin meneruskan hubungan mereka, apa yang akan kamu lakukan, Ra?"

Suara di seberang telpon terdiam lama....

"Ra...?"

"Kalau memang dia lebih membutuhkan perempuan itu, aku akan mundur. Aku akan minta berpisah, Vy. Rasanya aku tak kuat menanggung semua ini. Mana anakku sedang sakit...."

Airmataku menetes....

"Ra?"

"Aku...,pedih sekali...Vy...lukanya sangat menganga....," Suara Ra nyaris tak terdengar ....

Ah, Ra, kamu entah perempuan ke berapa yang akhirnya harus mengalami ini.... Dan perempuan itu? Hati macam apa yang ia miliki? Tidakkah ia bisa mencari pria lain, tak lagi menggangu suami orang...dan menjaga jarak selamanya? Dan suami Ra..., tidakkah terbuka hatinya untuk mengoreksi diri? Kalau ada hal yang dia inginkan dari Ra dan belum ia temukan dalam diri istrinya itu, tidakkah ia bisa menyampaikannya? Ra siap berubah sesuai apa yang diinginkan suaminya, begitu tekad Ra. Bukankah mereka bisa bicara? Apa yang menghalangi itu?

"Ra...." hanya isakan yang tak berhenti.

Telpon terputus.

Saat Dia Berpaling (2)


Ada apa, Ra? Mengapa kulihat kembali gurat pedih itu di wajahmu? Lalu seperti aliran sungai yang menderas, matamu pun bercerita pada mataku…
Ah, aku juga jadi tak mengerti. Mengapa suamimu masih menyimpan nomor telpon perempuan itu? Saat secara tak sengaja kau temukan sms-sms mesra itu di ponsel suamimu, naluri sebagai istri membuatmu hafal nomor ponsel perempuan itu.
Beberapa waktu lalu, suamimu memang telah meminta maaf, bahkan menangis mencium tanganmu berkali-kali. Suamimu juga berkata, ia telah menghapus semua tentang perempuan tersebut, termasuk nomor ponselnya. Ia juga berjanji tak akan lagi membalas email-email perempuan itu, yang membuat mereka semakin akrab berbulan-bulan. Tapi apa buktinya? Mana?
Kau merasa sangat perlu menjaga privasi suamimu. Karena itulah kau tak pernah ingin mengusik ponselnya, mencari tahu tentang apapun, termasuk hubungan antara suamimu dan perempuan itu yang kau kira telah tamat. Kau tahu suamimu sudah sangat menyesal. Hingga suatu saat, entah mengapa perasaanmu begitu tak enak.
Malam itu kau coba melihat kembali ponsel suamimu. Sebuah sms dari nomor tanpa nama tak mungkin bisa kau abaikan. Gaya bahasa perempuan itu! Meski tanpa kata cinta dan sapa mesra, kau tahu: perempuan itu menghubungi suamimu lagi, dengan nomor baru! Lalu kau catat kembali nomor tersebut. Tak perlu kertas. Luka telah menjadi pena yang lancar menggores kembali hatimu.
Kau diam. Hanya diam. Kau layani suamimu sepenuh hati, dengan keriangan yang terpaksa kau cuatkan dari nestapamu. Namun beberapa hari kemudian, saat suamimu lengah, kau cari nama yang mencurigakan dalam ponselnya. Mana? Di mana nama perempuan itu? Apakah suamimu sudi menyimpan nomor itu kembali?Kau terhenyak. Tak ada! Kau telusuri satu persatu nama dan kau cocokkan dengan nomor ponsel perempuan itu yang kau hafal sampai ke jantungmu. Kau terkejut! Sejak kapan suamimu mulai fasih (kembali) berbohong? Tiba-tiba kau merasa tak pernah mengenal suamimu sebelumnya. Sebuah nama lelaki yang mencurigakan dengan nomor ponsel yang terus menghantuimu, tertera jelas di sana!
“Supaya suamiku tidak tahu, aku selalu pakai nama perempuan untuk selingkuhanku lho,” terngiang perkataan centil teman perempuan sekantormu. “Jadi dia tidak mengira sama sekali bahwa Susi itu adalah Mas X,” tutur temanmu lagi. “Kadang namanya aku ubah sesukaku: Maryam, Imel, jenifer, Aisyah,” katanya cekikikan.
Kau beristighfar. Apakah itu juga yang dilakukan lelaki tercintamu?
Kau tak pernah membayangkan, suamimu tega menggali kembali luka yang ingin kau, yang ingin kalian lupakan atas nama cinta...dan kau masih bertanya-tanya sendiri, "Benarkah? sengajakah sang tercinta? Tak sengajakah? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Terbersit di pikiranmu untuk bertanya pada suamimu: mengapa? Tapi ada batu menindih lidahmu. Bukankah suamimu "hanya" menyimpan nomor telpon perempuan itu? Itu tak lantas berarti mereka menjalin hubungan istimewa lagi bukan? Namun mengapa harus nama pria yang tertera di ponselnya? Mengapa sang tercinta tak jujur saja menyimpan nama dan ponsel perempuan itu sebagai teman, dan ia katakan padamu?
Kini semua nomor perempuan itu ada dalam genggamanmu. Dan kau belum memutuskan apa pun. Hanya luka menjelma pena tajam tak berhenti menulis kembali semua angka dalam batinmu, diiringi airmata….
Andai aku bisa sekadar membantumu, Ra…. 

Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta



Apa jadinya ketika sepasang suami istri berbudi menjodohkan masing-masing sahabat mereka yang belum pernah saling mengenal, memiliki karakter berlawanan serta kultur yang begitu berbeda?
“Mereka akan menjadi pasangan yang hebat!” kata sang istri. Sambil mempromosikan gadis berjilbab sahabatnya.
“Sangat menarik dan akan saling melengkapi!” tutur si suami sambil dengan semangat menceritakan tentang jaka yang saleh, sahabatnya.
“Jika Allah mengizinkan, mereka akan menjadi pasangan yang cocok!”
Gadis dan jaka sama-sama kuliah di UI, namun berbeda fakultas. Mereka sama-sama aktif dalam kegiatan kerohanian Islam. Dua kali pasangan suami istri sahabat mereka itu mencoba mempertemukan jaka dan gadis dalam satu forum. Namun saat Jaka datang, si gadis tiba-tiba berhalangan. Ketika gadis hadir, si jaka yang tak bisa. Akhirnya sepasang suami istri tersebut mencoba mengatur pertemuan ketiga sambil memberikan data “orang” yang ingin mereka perkenalkan masing-masing pada jaka dan si gadis--- secara sendiri-sendiri.
Di kamar kos-nya gadis melihat data-data si jaka dan fotonya. Ini yang mau diperkenalkan itu…dan diharap oleh sahabatnya bisa menjadi pasangan hidup abadi si gadis? Priyayi Solo? Bagaimana cara berbicara yang dianggap santun oleh orang Solo? Si gadis geleng-geleng kepala. Jangankan menjadi istri, bisa-bisa dia kabur melihat gaya bicaraku…
Dalam kamar kos yang lain, di seberang gang kober, jaka tertegun. Sudah lumayan sering aku mendengar kiprah gadis itu di kampus dan majalah. Tapi apa tak salah? Si kelahiran Medan ini punya penyakit begitu banyak? Jantung, pernah gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening? Waduh, bagaimana bila “si penyakitan” ini kelak menjadi istrinya? Tapi prestasinya lumayan…rekomendasi dari sahabatku bukan sembarangan.
Tak dinyana, sebelum sempat diadakan ta’aruf, dalam salah satu forum di universitas, jaka dan gadis bertemu. Apa yang terjadi dalam diskusi pagi itu?
Sebuah perdebatan yang panjang. Cara pandang yang begitu berbeda. Dan tiba-tiba pagi di UI menjadi tak cerah.
Pria yang membosankan dan keras kepala, pikir si gadis.
Dasar keras hati! Belum ada perempuan yang berbicara menentangku seperti gadis ini! Pikir si jaka.
Lelaki seperti ini yang ingin diperkenalkan padaku? Si gadis nyengir. Dia akan kapok denganku dan segera melupakan langkah lanjut perkenalan kami…
Si jaka tak kalah gerah. Perempuan seperti ini? Aku selalu berpikir perempuan adalah kelembutan, kematangan, kepatuhan…, pikir si jaka. Tapi ini?
Sepanjang forum kata-kata berseliweran dalam ruangan itu, terutama dari mulut gadis dan jaka tersebut. Forum tersebut bukan tak penting, sebab mereka dan semua teman yang hadir pada saat itu tengah membicarakan suksesi kepemimpinan mahasiswa di universitas mereka.
“Menurut saya tidak bisa seperti itu!”
“Mengapa tidak? Menurut saya yang demikian yang paling mungkin!”
“Tidak bisa! Karena….”
“Bisa! Karena….
Setelah perundingan yang melelahkan, akhirnya dicapai kesepakatan. Sebuah kesepakatan yang didapat dengan catatan.
Ini mungkin pertama dan terakhir kali kami bertemu dan berbicang, pikir si gadis. Dia pasti kapok dan tak ingin mengenalku lebih dalam. Tapi tak apa, setidaknya aku tak berpura-pura membuat ia terkesan….
Jaka resah. Gadis seperti ini? Entahlah. Keras kepala,penyakitan pula! Apa harus diteruskan?
Tak pernah ada perkenalan yang direncanakan lagi setelah itu. Kelihatannya mereka memang tak cocok dan mungkin akan saling melupakan.
Namun tak lama kemudian, pada suatu pagi, seseorang datang ke tempat gadis dan berkata: “Saya sudah istikharah dan kamu selalu muncul. Bersediakah?”(lupakan ia penyakitan, ia baik untuk menjadi istriku. Allah menunjukkannya!)
Gadis tak mengerti. Dia diam. Apa yang dilihat lelaki muda itu dari dirinya? Tak cantik. Tak kaya. Tak terlalu cerdas. Sangat biasa. Pernah “bertengkar” pada pertemuan pertama pula. Apa? Apa yang dilihat lelaki itu? Pilihan yang tak lazim…
Gadis pun memilih istikharah sebelum menjawab.
Sesuatu yang menakjubkan dan tak terduga muncul! Seperti ada yang membimbing ketika si gadis berkata “Ya”.
Sebulan kemudian, jaka melamar gadis. Dan hanya diperlukan waktu sebulan lagi sebelum kemudian jaka dan gadis menikah! Sungguh akhir yang tak terduga!
Sebuah pernikahan berlangsung sederhana namun meriah, di Jakarta. Banyak sekali saudara dan sahabat yang hadir. Mereka bertanya-tanya, bagaimana dua pasangan ini bisa bertemu?
Pada malam pertama gadis dan jaka berbicara hingga dinihari, shalat malam dan tilawah bersama.
“Jadi bagaimana sampai bisa kamu punya penyakit sebanyak itu?” tanya jaka pada istrinya tiba-tiba.
“Apa, Mas? Penyakit? Maaf, penyakit apa ya?” gadis balik bertanya.
“Jantung, gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening, ….”
“Apa?” gadis bingung.
“Mas baca di datamu. Data yang diberikan oleh sahabat kita itu! Tapi Mas sudah ikhlas kok menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan. Semoga kamu juga begitu ya….”
Gadis ternganga. Penyakit?
“Mas, aku nggak punya penyakit seperti itu. Paling-paling cuma mag…,” gadis nyengir lagi.
Jaka terkejut sekali. Tak lama wajahnya berseri-seri. “Alhamdulillah” (ia ingat, ia sudah mengambil resiko untuk memilih gadis yang keras kepala itu, meski ia “penyakitan,” meski orangtuanya sangat keberatan dengan ragam penyakit calon menantu mereka). Mata jaka berkaca.
Allah Maha Besar! Allah Maha Besar!
Malam itu si gadis menyempatkan diri mengirim pesan via pager pada sahabat perempuan yang sangat disayanginya: Mbak sayang, datanya ketuker ya? Or salah tulis soal penyakit? Hebat dia masih maju terus! Aku tahu dia memang bukan lelaki biasa! ;)
Bulan bahkan sudah tidur sejak tadi. Tapi jaka dan gadis seperti tak ingin memejamkan mata. Mereka tak berhenti menatap satu sama lain; sebuah pesona yang lama dinanti, hadir dari lintasan misteri, menerpa hati dan wajah mereka. Menyala. Ini cinta? Atau belum lagi sampai pada cinta? Apapun itu, mereka percaya, kebaikan menumbuhkan cinta; keindahan yang tangguh. Dan pacaran sesudah menikah? Hmm mungkin itu kenikmatan berlimpah berikutnya :)
Subuh pun hadir membasuh kembali wajah mereka. Suara adzan terdengar menggetarkan. Jaka dan gadis sadar, telah mereka genggam anugerah tak terkata itu:  bertemu dengan pasangan jiwa yang sudah dituliskan Illahi.
Kini telah lebih dari sepuluh tahun, cinta menemukan dan menempuh jalannya.
      Semoga abadi!

(Helvy Tiana Rosa; saat Mas masih di LN :)))

Saat Dia Berpaling (1) By Helvy Tiana Rosa


Betapa perihnya. Perempuan itu menggigit bibirnya yang tiba-tiba asin darah. Sejak pagi hingga malam menyergap, ia masih menangis. “Tak mungkin,” desisnya, tetapi itu nyata. Ia sendiri yang membaca semua sms mesra itu. Suaminya telah berpaling. Sandaran hidup, pria terbaik di dunia itu, ayah anaknya, berkhianat! Sejauh apakah? Ia gelisah. Ia tatap potret perkawinan di dinding kamar mereka. Tiba tiba tangannya sudah bergerak meraih potret itu namun urung membantingnya. Gumpalan-gumpalan benci semakin membesar. Lalu ia pun tersungkur begitu saja di sudut kamar. Lelaki. Apa mereka semua sama?

Perlahan ia raih lagi ponsel suaminya yang tertinggal hari itu. Nyeri sekali. Perempuan yang entah siapa, hanya berinisial S menyapa suaminya melalui sms dengan “cinta”, “say”, “kiss u”, dan semacamnya. Beberapa saat lalu ia hanya cengengesan membacanya. Mungkin teman yang iseng. Tapi ia terhenyak dan tiba-tiba merasa terbanting. Pada bagian sent, ia melihat balasan sms suaminya! Kata-kata “say” dan “kiss u” juga ada di sana! Airmatanya semakin berderai-derai dan beliung-beliung dari berbagai penjuru menikam batinnya.

Belasan tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal suaminya. Tapi hari itu ia merasa suaminya tak lebih dari orang asing. Sangat asing.

Ia telepon suaminya sambil menangis. “Apakah abang baik-baik saja?” isaknya. Suara sang suami datar menjawab bahwa ia baik-baik saja dan menanyakan kabar istrinya. Perempuan itu tak sanggup. Ia putuskan telepon. Ia sms suaminya dengan satu kata: S.

Dengan bercanda suaminya membalas sms. S? Bukan siapa-siapa. Hanya teman virtual. Bisa jadi siapa saja. Mungkin nenek-nenek atau lelaki.

Tapi perempuan itu telah membaca gelagat. Ia menangkap aroma kebohongan itu.

Dengan sekuat hati mencoba menjaga emosi, ia pergi menuju wartel terdekat. Ia telpon perempuan misterius itu. Ia berpura-pura mengetahui nomor itu dari seseorang dan akan mengabarkan tentang seseorang lainnya yang sakit parah. Suara di ujung telepon menjawab sekadarnya: “Salah sambung!”

“Boleh saya tahu ini siapa?”

“Saya Lina.”

Dengan sebukit ingin tahu yang kian meninggi, perempuan itu menekan nomor hp “S” kembali. “Mohon maaf ya, tapi saya diberikan nomor ini. Apa betul ini Mbak N?”

“Nama saya Shinta! Saya di bandung bukan di Menteng. Saya lagi puasa! Salah sambung!” ketusnya.

Tapi tadi Lina, sekarang Shinta?

Perempuan itu kembali ke rumah dengan langkah yang semakin gontai dan airmata yang terus bercucuran. Ia sms kembali suaminya:

Siapa dia Bang? Mengapa?

Bkn siapa-siapa. Hny teman virtual. Aku malah tdk ingin btemu dngnnya. Tidak ingin tahu siapa dia. Aku hanya curhat.

Curhat? Mengapa bkn dengan aku saja, Bang? Maafkan aku, maafkan kekuranganku hingga Abang harus bpaling. Aku memang istri yang tidak peka dan tidak berguna. Aku merasa….

Sayang, aku yang minta maaf. Mungkin seumur hidup kamu akan terus terluka. Aku menyesal. Apapun kekuranganmu tak boleh membuatku berpaling darimu….

Hening. Airmata.

Entah bagaimana, tiba-tiba kata maaf dan penyesalan dari suaminya bertubi-tubi muncul di ponsel perempuan itu.

Tolong maafkan aku. Aku yang salah karena meladeninya. Aku mrs menemkn sosok ibu rmh tg yg baik pd drnya. Tlg maafkan aku. Jgn hkm dirimu krn keslhanku.

Aku yg slh, bdh, tdk peka. Tidak berguna sbg istri. Setelah ini mgkn aku tak sanggup lg mhadapi matahari.

Perempuan tersebut bersiap siap. Mungkin ia harus pergi. Entah untuk sebentar atau selamanya. Entah kemana. Mungkin ke tempat di mana matahari dan bulan tak ada. Ia menangis lagi saat menatap wajah anaknya.

“Ada apa, Bu? Mengapa hari ini ibu menangis terus?” Tanya sang anak.

Ia tak sanggup menjawab, hanya memeluk. Lalu pelan ia berbisik, “ibu mendapat cerita sedih teman Ibu dari sms. Tolong doakan ya semoga semua baik-baik saja.”

“Tapi mengapa mata ibu sembab?”

Ia paksa membuat lengkung pelangi terbalik di wajahnya. Anaknya tersenyum dan bermain kembali.

Tolong maafkan aku. Hukum aku. Bencilah aku. Ini akan menjadi hukuman seumur hidupku, sms suaminya lagi.

Perempuan itu menatap cermin buram di kamarnya. Apa yang sudah aku lakukan? Apakah aku luput memperhatikan dia? Apa aku terlalu banyak di luar?
“Kamu sangat dibutuhkan masyarakat,” terngiang kata begitu banyak orang, juga suaminya. Benarkah? Tapi ia juga dibutuhkan suami dan anak-anaknya….

Sungguh, perempuan itu telah menetapkan rambu-rambu itu untuknya. Ia baru akan pergi setelah suami dan anak-anaknya keluar rumah dan tiba di rumah sebelum mereka pulang. Ia coba menyempatkan diri memasakkan suaminya, membuatkannya segelas susu setiap pagi. Apakah suaminya ingin ia juga mencuci dan menyetrika baju lelaki tercintanya itu dengan tangannya sendiri? Ia mau sekali. Namun cukupkah waktu untuk itu semua? Bukankah dulu suaminya juga yang berkata bahwa hal seperti itu bisa dilakukan siapa pun, namun apa yang perempuan itu kerjakan, sedikit saja perempuan yang mampu melakukannya.

Bantal yang menyangga kepala perempuan itu telah basah oleh airmata.

Izinkan aku menjelaskan semua. Tlg maafkan aku. Mohon bukakan pintu rmh untukku mlm ini…, jangan pergi….

Perempuan tersebut tak lagi membalas sms suaminya. Haruskah ia pergi malam ini? Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana pernikahan mereka? Haruskah berpisah? Ah, ia berharap kini ia tengah tertidur, lalu kecupan mesra sang suami membangunkannya dari semua mimpi buruk.

Perlahan diseretnya kakinya yang seakan-akan melemah, ke kamar mandi. Ia siramkan air ke wajahnya. Lalu ia berwudhu. Ia harus segera menghadapNya untuk mendapatkan ketenangan. Bernaung dalam cintaNya di saat ia tak lagi merasa memiliki cinta sejati di dunia ini selain kasih ibu.

Ia tak tahu sudah berapa lama ia tersungkur di atas sajadah, ketika sayup-sayup terdengar langkah suaminya. Hari sudah larut. Penghuni rumah yang lain telah lelap. Ia hapus airmata di pipi dan bangkit. Ia akan membuka pintu rumah dan menghadapi sendiri seperti apa mimik suaminya saat mereka bertatapan pertama kali setelah peristiwa itu.

Tak ada kata kecuali salam yang diucapkan dan dijawab. Perempuan itu mencium tangan suaminya dengan kaku. Dan lelaki itu mengecup pipi, kening serta bibir sang istri, seperti sebuah ritual yang ia lakukan dengan kesadaran penuh

Baru beberapa langkah, lelaki itu memegang tangan istrinya dan berkata: “Bolehkah aku memelukmu?”

Perempuan itu hanya diam. Suaminya memeluknya dengan kuat diiringi bertubi maaf. Perempuan itu berderai-derai. Apakah ini suamiku? Atau entah orang asing mana? Ia merasa dirinyalah yang terasing di antara suaminya dan perempuan berinisial S itu.

Perempuan itu terlalu luka untuk mengumbar amarah. Ia hanya terdiam. Menjaga malam dengan matanya yang berembun. Namun suaminya tak juga beranjak dari sisinya.

Lampu telah mati sejak tadi. Mereka berbaring bersama bersisian. Setelah beberapa saat udara hampa kata, dengan suara bergetar lagi-lagi suaminya meminta maaf. “Aku yang salah. Aku egois. Aku tergoda. Meski kami belum pernah bertemu dan hanya berkirim email serta sms, aku telah mengkhianatimu.” Lelaki itu tak lepas mencium tangan istrinya.

Senyap. Perempuan itu menelan lukanya. “Siapa dia, Bang? Apa dia sudah menikah?”

Suaminya menyebut nama perempuan itu. Janda cerai hidup dengan dua anak. Ibu rumah tangga biasa. “Tapi kami belum pernah bertemu.”

Janda? Cerai hidup? Dua anak? Perempuan itu terhenyak. “Belum bertemu tapi mengapa begitu akrab? Ia bahkan tahu nama anak-anak dan saudara kita?”

“Karena aku sering bercerita padanya.”

“Dan dia? Tidakkah dia juga sering bercerita?”

“Ya. Semua terjadi begitu saja. Mengalir begitu saja. Tiba-tiba di dunia itu kami menjadi sangat akrab…,maafkan aku….”

Sembilu memahatkan lagi luka yang nanah di batin istrinya. “Aku yang salah,” suara istrinya bergetar. “Mungkin terlalu banyak celah dalam diriku yang membuat perempuan itu bisa masuk dalam batinmu. Akulah pintunya. Mungkin karena aku terlalu sibuk. Mungkin karena aku tak pintar mengurus rumah tangga….”

“Tidak,” lelaki itu mengecup kening istrinya. “Itu salahku. Hatiku tak bersih. Seharusnya aku tak egois. Kamu istriku, adalah harapan banyak orang. Aku yang egois….”

“Kita sudah sepakat menjaga komunikasi. Aku tak mengerti. Aku memang bodoh dan tidak peka,” kata perempuan itu lagi.

Suaminya terus menggenggam jemari istrinya, mengecup dan menaruh di dadanya.

Perempuan itu masih menangis. “Lalu apa, Bang? Apa yang harus kulakukan?”

Suaminya menarik napas panjang sambil membelainya. “Tidak ada. Aku yang harus bertobat. Aku malu pada Tuhan, padamu, pada dunia….”

Hening. Lalu ia dengar suaminya terisak dengan dada berguncang, mendekapnya erat. “Tolong beri aku kesempatan. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku tak akan pernah lagi berpaling darimu. Tak akan pernah meninggalkanmu….”

Perempuan itu menatap langit kamar yang kelabu. Belasan tahun bersama, berapa banyak kebohongan di antara mereka? Ia merasa mengenal suaminya sangat baik. Kalau ada lelaki di zaman ini yang tak pernah berbohong, maka ia begitu yakin itu adalah suaminya. Dan kini, apa yang tersisa dari keyakinan itu?

Ia gigit lagi bibir bawahnya dan masih menemukan asin darah yang sama. Ah, ia merintih menahan perih itu. Hampir setiap saat ia menampung keluh kesah para sahabat dan banyak teman tentang suami-suami mereka yang berselingkuh. Dan apa yang ia katakan? Kalau suamimu selingkuh, introspeksi dirimu. Baca kembali dirimu, mungkin ada yang keliru dengan buku hidupmu. Namun bila selingkuh itu telah sampai pada kontak fisik, engkau tak salah bila memutuskan pergi dari hidupnya. Dan bila itu terjadi padaku—kata perempuan itu---aku akan benar-benar pergi! Ah, tapi kan suamiku bukan seperti suami perempuan lain…, yakinnya dulu. Ya dulu sampai dengan hari itu.

Malam semakin larut dan dingin. Perempuan itu menggigil menyadari apa yang terjadi. Berapa lama? Tiga bulan, kata suaminya. Perempuan itu mengirim email lebih dulu. Suaminya menjawab. Semakin lama email-email itu kian panjang. Berseliweran setiap hari dan meningkat pada sms. Setelah itu? Perempuan tersebut bergidik. “Kami belum pernah bertemu…,” terngiang lagi kata suaminya. “Aku hanya pernah melihat fotonya….”

Tapi sapa mesra itu?

“Maafkan aku…,”lirih suaminya. “Maafkan aku…,” katanya tak putus sambil mendekap istrinya yang kaku.

Bulan mulai lelah. Sebentar lagi mentari akan menggantikan tugasnya menerangi bumi. Namun apakah kata maaf dari suaminya dapat menerangi lagi batin perempuan itu?

Kaku sekali ia beringsut mendekati dengan suaminya. Ia rasakan letupan duka itu saat ia mendekap suaminya. “Maafkan aku juga….”

“Cinta, kamu tak salah, aku yang salah,” itu lagi kata suaminya. Lelaki itu terisak di dadanya.

Dengan mata yang terus terjaga perempuan itu berusaha menghentikan airmatanya. Ia bersyukur hari itu ia tak emosi, apalagi memaki-maki perempuan itu. Ia hanya introspeksi, meminta maaf pada suaminya dan mengadu pada Allah….

“Apakah aku masih diberi kesempatan untuk mendampingi dan menjagamu selamanya?” tanya suaminya.

Mereka bertatapan.

Dalam genangan lara perempuan itu mengangguk. Tapi ia sungguh tak tahu sampai kapan luka itu sembuh. Dan S? Ah, perempuan seperti apa yang tega menggoda dan mencoba merenggut kebahagiaannya?

Duka dan maaf berarak dalam kamar yang gelap. Sepasang cinta dengan sayap luka berdekapan hingga pagi menyapa. Berharap sabar dan sesal dapat melelehkan luka yang batu. 

Selasa, 07 Februari 2012

ANTARA AYAH, SEPEDA, DAN SAYA


Kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok ayahku adalah cerdas, penyayang, kreatif, dan humoris. Ayahku termasuk orang tua yang tau bagaimana cara menyenangkan keempat puterinya. Ketika kami masih kecil, ayahku sering membuatkan mainan sendiri. Di samping rumahku, ayahku membuatkan kami ayunan dari kayu dan tali tampar. Ayahku juga bisa membuatkan jungkat-jungkit yang ukurannya lebih besar daripada yang ada di Taman Kanak-Kanak sehingga bisa dinaiki lebih dari dua orang anak. Kuda-kudaan kayu pun ayahku bisa membuat sendiri. Memang warnanya tidak sebagus yang dijual di toko-toko tapi ukurannya lebih besar dan lebih kokoh, orang besar pun bisa menaikinya. Bahkan ayahku bisa membuatkan skateboard lho.. jangan bayangkan skateboardnya sama dengan yang biasa djual. Hehehehe,, skateboard itu dibuat dari kayu dan diberi klaker, jadi kalo sedang berjalan cepat sekali dan tidak bisa direm. Kalau kami menaikinya dan telat mengerem bisa jatuh sampai teras rumah.hehehe.. Waktu musim skuter, tau kan? Skuter yang biasanya di film Teletubbies itu, tau kan? Ayahku membuatkan skuter sendiri. Pijakan kakinya lebih besar ukurannya dibanding yang asli kemudian diberi dua klaker. Kami sudah senang bukan buatan meskipun itu buatan sendiri. Ayahku kreatif bukan?? Dari bahan sederhana ayahku juga bisa membuatkan mainan yang lucu misalnya dari wadah bekas balsem ditambah palstik kemudian dikasih pipa kecil ayahku mebuatkan alat tiup yang bunyinya preeettt,,,preeettt,,,preeettt,, Suaranya yang aneh itu bisa membuat kami tertawa terpingkal-pingkal..

Meskipun ayahku hanya lulusan Sekolah Dasar, ayah termasuk orang yang gemar membaca, melihat discovery, dan juga suka mengikuti perkembangan politik lewat televisi. Ketika kami sama-sama menonton TV One atau Metro TV sering kami berdiskusi bahkan berdebat dengan ayah. Ayahku salah satu orang yang enak diajak diskusi tapi sering tidak mau ngalah kalo debat,,ckckckkc. Apalagi saya adalah orang p****i sedangkan ayah termasuk orang yang pesimis dengan p****i jadilah kami suka cekcok.hahahaha..(tapi saya sukses lho mempengaruhinya waktu tahun 2009 lalu :D :D :D). Saya dan ayah sama-sama suka melihat discovery. Ayah sangat suka melihat cara bagaimana hewan liar hidup di alam, dunia laut, dan film tentang sains.

Masalah kreatif, ayahku tiada duanya bagiku. Hehehehe..kalu sedang berurusan dengan tugas kesenian ayah adalah solusi atas semua permasalahan. Hag,,hag,, sampai-sampai sepupuku juga begitu kalau dapat tugas kesenian lari ke rumah mencari bala bantuan. Hehehehehe... mau tugas gambar, membuat patung dari tanah liat, dan sebagainya ayah bisa membuatkan. Waktu saya OSPEK di kampus dulu, tau kan kalau OSPEK bawaannya rempong mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut? Ayahkulah yang membuatkan propertinya hehehehe.... Pokoknya ayahku Juara Satu se-Dunia. :D :D

Kapan-kapan saya akan melanjutkan ceritanya,, heheheh ^_^" 
pantheng terus yak,,

Jumat, 03 Februari 2012

Saya Hanya Iri Saja Kok


Campbell Jilid 1
Membaca buku ini bagi saya bukan  membuat saya tambah pinter tapi justru membuat saya tambah dudul.  loh? Kok bisa?? Soalnya saya nggak ngerti isinya,,,hahahhahhahaha,,
Nah, Enaknya lagi kalo ikut lomba kayak gini itu waktu di tingkat Provinsi. Kenapa?? Kita bisa nginap di asrama haji Sukolilo, kenal dengan anak-anak dari SMA lain, dan pesangonnya itu lo,,, (bikin kita bisa kipas-kipas) hag,,hag,,yeah,,buat anak SMA kayak saya yang jarang megang duit warna merah uang segitu udah gedhe. Waktu saya amati ternyata semakin jauh tempat asalnya, semakin banyak uang saku yang diberikan dalam hati saya berkata (hadew,,,kalo kayak gini pengen pindah ke ujung Banyuwangi sana, kalau perlu Alas Purwo sekalian .. kekekekekekeke). 
Sebenernya saya membuat tulisan ini bukan untuk cerita-cerita ikut lomba itu. So? Saya sih hanya ingin mengungkapkan unek-unek dalam hati saya. Bagi saya sungguh sebuah fenomena dilematis ketika saya melihat antara pemenang Indonesia Idol dengan pemenang Olimpiade Sains. Ketika melihat Delon, Rini, Ihsan, atau Dirly menang menjadi penyanyi terbaik versi Indonesia Idol mereka begitu di elu-elu kan (ya iyalah,,masa’ di Gue-gue kan,,hag,,hag) oleh masyarakat. Rakyat Indonesia begitu bersemangat untuk melihat acara itu bahkan tidak eman untuk mengirimkan sms mendukung penyanyi favorit mereka. Selain itu, ketika mereka menjadi juara,,biyuhhh-biyuhhh,,hadiahnya nggak tanggung-tanggung. Hasil dari googling ne hadiah untuk para pemenang Indonesia Idol yaitu satu unit mobil  Suzuki Swift yang harganya di atas 100 jutah,,belum lagi uang tunai, belum lagi tetek bengek dari sponsor-sponsor pendukung, belum lagi kesempatan buat album solo, belum lagi,,,dan belum lagi,,, @,@


Dan ketika kulihat pemenang lomba olimpiade sains tingkat Internasional. Anak-anak bangsa yang mengharumkan nama negeri ini hanya mendapat kesempatan lewat di iklan baris tipi One saja atau kalau lagi mujur ya diwawancara oleh media. Beda dengan Indonesia Idol, AFI, atau Penghuni Terakhir yang punya acara khusus untuk meliput mereka. Saya tahu menjadikan anak hingga menjadi pemenang olimpiade sains tidaklah mudah. Butuh perjuangan besar dan keberanian untuk mencetak dan mengirimkan mereka di ajang Internasional (silakan baca buku Mestakung karya Prof. Yohanes Surya) atau bisa kunjungi websitenyahttp://www.yohanessurya.com/activities.php?pid=101&id=15


Disana kita akan disuguhi suka duka mereka ketika berjuang untuk mendapatkan medali. Huhuhuhu,, Jangan tanya seberapa besar hadiahnya, pemerintah paling hanya memberi 4-5 juta per anak atau jangan membayangkan mereka mendapat tawaran bermain sinetron atau iklan yang honornya jutaan. Mereka ditawari masuk Perguruan tinggi favorit di Indonesia geratis sudah sujud syukur..hehehe.. yeah, memang perguruan tinggi sudah memberi dispensasi untuk mereka supaya tidak membayar biaya kuliah secara penuh, tapi biaya hidup dan lain-lain??? tidak ada jaminan,, -lihat pemenang penghuni terakhir dapat rumah 2M jadi ngiler..xixixixix- Well..itulah paradoks di Indonesia.


Jadi, jangan heran dengan universitas-universitas luar negeri  yang suka lirak-lirik anak-anak cemerlang di Indonesia untuk disekolahkan gratis dan dijamin penghidupannya. Jangan heran pula banyak ilmuwan Indonesia yang lebih kerasan tinggal di luar negeri karena kehidupannya lebih layak..
The last,,Mereka adalah salah satu aset bangsa demi kemajuan IPTEK di Indonesia yang musti kita apresiasi prestasinya. Maju terus pendidikan Indonesia,,!! 
Never Ever Surrender wahai anak-anak bangsa,,!!
Nasib negara ini ada di dalam genggamanmu,,!!
Ganbatte Kudasai,,!!